Travel Journal

Desa Wisata Margacinta: Benteng Tradisi Kab. Pangandaran

        Setelah sehari sebelumnya menghabiskan waktu di perjalanan dari Jogja menuju Tasikmalaya dan Pangandaran, pagi ini saya bersama sahabat Famtrip Pesona Indonesia bersemangat untuk menelusuri beberapa destinasi wisata di wilayah Kabupaten Pangandaran. Sesuai dengan rencana, Desa Wisata Margacinta menjadi tempat pertama yang akan kami singgahi hari ini. Pukul delapan pagi kami meninggalkan Hotel Grand Mutiara. Cuaca di luar tampak teduh sebab hujan deras yang mengguyur semalaman. Badan mini bus yang kami tumpangi perlahan melesat pada ruas kiri jalan raya Pangandaran-Cijulang yang masih begitu lenggang.  

          Tak lama kendaraan yang kami tumpangi pun tiba di depan Kantor Kecamatan Cijulang, Desa Margacinta. Dari kejauhan tampak seorang pria berpakaian pangsi khas Sunda bewarna putih lengkap dengan sejumput kain bercorak batik mengikat di kepala dan memanggul tas selempang anyaman di bahunya. Ini menjadikan penampilannya tampak seperti seorang pendekar yang siap menghadang kami di lobi kantor kecamatan. Kami pun menghampiri sosok pria berpakaian pangsi itu.

Wilujeng Sumping di desa kami, Desa Margacinta, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian” sambutnya dengan penuh rasa gembira.

           Kami semua sontak memberi senyum membalas sambutan hangatnya dengan berjabat tangan. Beliau mempersilahkan kami masuk ke dalam ruangan yang tak seberapa luas. Pandangan mata saya langsung tertuju pada hiasan topi yang terbuat dari pelepah bambu dengan berbagai ukuran, dari yang terkecil, hingga yang terbesar­─yang ukuran diameternya kurang lebih setengah rentangan tangan orang dewasa. Topi-topi tersebut melekat dan menghiasi dinding-dinding kantornya. Pada sudut lain terdapat alat musik tradisional angklung berjejer rapi di dekat klenengan–sejenis alat musik tradisional yang menyerupai gamelan.  

 

       Pria tersebut mempersilahkan kami duduk pada bangku-bangku bergaya otentik. Saya pun duduk menghentikan sejenak rasa kagum saya terhadap pernak-pernik hiasan di ruangan beliau.

“Selamat pagi, Pertama-tama ijinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya Edi Supriadi yang mana merupakan Kepala Desa Margacinta tahun 2017-2019”, ungkapnya dengan logat khas Sunda.

       Kami pun memperkenalkan diri masing-masing serta menyampaikan maksud dan tujuan kami datang. Bapak Edi mulai membuka obrolan singkat mengenai beragam potensi yang dimiliki desanya. Ia menjabarkan bahwa potensi wisata unggulan di Desa Margacinta berupa seni dan budaya. Pak Edi menceritakan bahwa di desanya terdapat kesenian tradisional Badud yang menjadi ikon Kabupaten Pangandaran. Selain itu Desa Margacinta juga memiliki beragam jenis hasil kriya yang dibuat oleh para warganya seperti; alat musik angklung, tas dari anyaman pelepah gebang, ukiran kayu, dudukuy (sejenis topi anyaman), kerajinan kolotok dll. Semua hasil kerajinan yang ada disini merupakan pemanfaatan dari hasil alam yang melimpah di Desa Margacinta.

       Pak Edi menerangkan tentang bagaimana segenap masyarakat desanya berjuang membangun daerahnya dengan menanamkan konsep pariwisata yang dapat mengedukasi, serta tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi dan budaya. Beliau ingin dapat mengubah tatanan masyarakat desanya yang semula tidak begitu paham dengan pengelolaan pariwisata dengan baik dan berkelanjutan, hal ini tak lain untuk melahirkan kebaikan-kebaikan bagi anak cucu sebagai penerus generasi di Desa Margacinta. Pada akhir sambutannya, Ia dengan senang hati mengantarkan untuk berkeliling menelusuri seluk-beluk desanya dan memperlihatkan kepada kami kesenian tradisional yang ada di Kampung Badud, Dusun Margajaya.

       Kemudian kami semua memulai perjalanan menuju lokasi kampung Badud berada dengan melewati jalanan masuk yang ada di samping kantor kecamatan. Jalan masuk menuju Kampung Badud sekitar 7 km dari jalan raya Cijulang yang dapat ditempuh 25 menit dengan berkendara.  Suasana kota berubah menjadi suasana hening dan sejuknya suasana pedesaan yang berbaur dengan hutan. Saya melihat hampir di tiap-tiap rumah warganya menanam sayur dan buah-buahan. Seperti daun bawang, cabai, tomat, pakis, kecombrang, serta buah mangga, pisang, jeruk nipis, manggis dll. Mobil mini bus yang kami kendarai melewati bentang sawah yang menghijau. Kontur jalanan mulai naik turun, dengan bangunan rumah yang terlihat tidak saling berdekatan lagi satu sama lain.

        Roda mobil tak lagi melewati  jalan cor coran semen, tapi tanah dan rerumputan. Kami pun tiba tepat di depan jembatan yang membentang indah. Bapak sopir memarkirkan kendaraannya, sebagian penumpang mini bus sudah tak sabar untuk turun menilik jembatan dari dekat. Begitu keluar dari mobil, saya dapat mendengar dengan jelas suara aliran sungai yang mengalir deras. Suara tonggeret saling bersaut-sautan menyambut kedatangan rombongan kami.  Sungguh teduh desa ini.

Warna-warni Jembatan Gantung “Pongpet”

            Jembatan gantung Pongpet yang berwarna-warni ini merupakan pintu masuk bagi pengunjung yang ingin mengenal lebih dalam Desa Margacinta. Di Dusun Margajaya ini pengunjung dapat menikmati beragam atraksi kesenian tradisional mulai dari kesenian seperti Badud dan Jingkrung yang dibawakan oleh kelompok-kelompok seni yang beranggotakan warga desa setempat. Di atas ketinggian 50 meter aliran sungai Cijulang, Jembatan Pongpet memiliki cerita sejarah tersendiri bagi masyarakat Desa Margacinta. Pak Edi sempat menjelaskan kepada kami bahwa dahulunya di jembatan ini adalah tempat segerombolan jawara/preman yang senang meminta upeti setiap kali warga lewat menggiring ternak-ternaknya ke ladang. Namun ada seorang warga yang gagah berani menumpas perilaku preman-preman yang merugikan masyarakat. Dengan taktik merubuhkan jembatan Pongpet agar tak lagi dijadikan sarang bagi preman untuk memeras dan merugikan warga setempat. Saat ini jembatan Pongpet telah dipugar menjadi lebih apik untuk mengenang kisah keberanian salah satu warganya serta mempermudah akses jalan antar dusun.

Jembatan Pongpet Desa Marga Cinta
Jembatan Pongpet Desa Marga Cinta diresmikan 17 Agustus 1992

Jembatan Pongpet Desa Margacinta

Jembatan Pongpet Desa Margacinta
Mbak Ika Soewadji dan Saya sedang memegang bunga kecombrang di atas jembatan Pongpet

           Saya dan beberapa orang melangkah pelan melewati jembatan gantung Pongpet. Untuk melewatinya, jembatan ini hanya dibatasi kurang lebih lima orang saja setiap kali lewat. Ini supaya  menghindari beban yang berlebih, mengingat jembatan ini merupakan jembatan tua yg dibangun kembali tahun 1992. Ketika dilewati jembatan Pongpet bergoyang seolah memantulkan tubuh yang memijaknya, Pemandangan sungai di bawah begitu asri dan indah, namun begitu curam berhasil membuat kaki-kaki saya lemas. Saya tetap fokus memposisikan badan untuk berjalan pada bagian tengah jembatan sambil mencuri-curi untuk melihat ke bagian bawah jembatan. Aliran sungai di bawah jembatan ini juga merupakan jalur untuk body rafting para wisatawan.  

Kesenian Jingkrung & Badud

                  Pada bibir jembatan kami telah disambut oleh warga yang sudah antusias menunggu kedatangan kami. Sesepuh desa dan pelestari kesenian Badud pun turut hadir menyambut kami. Kebanyakan pria berpakaian pangsi hitam. Sedangkan pakaian untuk perempuan menggunakan kebaya warna-warni. Kami dipersilahkan untuk duduk lesehan sembari beristirahat di saung yang terbuat dari rangka bambu sebelum menyaksikan beragam kesenian yang akan ditampilkan.

Disambut Segenap warga Dusun Margajaya Desa Margacinta
Disambut Segenap warga Dusun Margajaya Desa Margacinta, Kab. Pangandaran

Kudapan Nugget Jantung Pisang dan jus Honje buatan warga Dusun Margajaya, Desa Margacinta
Kudapan Nugget Jantung Pisang dan jus Honje buatan warga Dusun Margajaya, Desa Margacinta

Kudapan Dodol Singkong dan Jantung Pisang, Desa Margacinta

            Beragam kudapan ringan tradisional seperti dodol singkong, singkong goreng, nugget jantung pisang, jus honje dan lainnya telah terhidang dengan rapi. Saya melirik dan mencicipi satu demi persatu. Bersamaan dengan itu dimulailah penampilan pertama kesenian Jingkrung yang dibawakan oleh sekelompok ibu-ibu berkebaya dan berkerudung  menyanyikan tembang-tembang religius yang membuat kami terbius. Suara dog-dog dan angklung mengiringi suara merdu kelompok ibu-ibu tersebut. Lantunan lagu merupakan puji-pujian kepada Allah SWT,  maka dari itu tembang yang dibawakan merupakan penggalan ayat-ayat yang berasal dari kitab suci Al-Quran. Jingkrung biasa dibawakan ketika warga mengadakan acara khitanan atau syukuran atas kelahiran buah hatinya.

Penampilan Kesenian Jingkrung
Penampilan Kesenian Jingkrung

Penampilan Kesenian Jingkrung di Kampung Badud

Penampilan Kesenian Jingkrung di Kampung BadudPenampilan Kesenian Jingkrung di Kampung Badud

       Kemudian pada sesi kedua, adik-adik dari Sekolah Dasar Margacinta unjuk kebolehannya dengan memainkan angklung dan tabuhan dog-dog. Dog-dog atau Badud merupakan alat musik khas desa Margacinta yang terbuat dari kayu pohon dan kulit kerbau. Mereka begitu fasih membawakan irama musik yang mengalun cepat dan bersemangat. Tak lama pada sesi akhir, tibalah saatnya sekelompok pria dewasa menampilkan kesenian Badud. Dahulu kesenian Badud diciptakan sekitar tahun 1868 oleh Aki Ijot dan Aki Ardasim yang merupakan tokoh masyarakat. Kesenian yang menjadi ikon Kabupaten Pangandaran ini diciptakan sebagai bentuk hiburan atau rasa suka cita para petani yang sukses dengan hasil panennya yang melimpah. Lagu-lagu yang dibawakan biasanya merupakan nyanyian rakyat (wawangsalan). Diiringi tabuhan Badud atau dog-dog berpadu dengan kurulungan angklung. Terdapat empat pemain utama Badud yang biasa disebut dalang, sendul, oyon dan engkelek. Sebutan ini tergantung pada besarnya alat musik Badud yang mereka mainkan. Dalang membawakan alat musik paling besar dan oyon dan engkelek membawakan alat musik yang paling kecil.

Kesenian Badud Desa Margacinta
Penampilan Kesenian Badud  yang dibawakan oleh anak-anak SDN Margacinta begitu bersemangat. Ini merupakan bentuk regenerasi dari pewaris kesenian Badud.

            Tak lama keluarlah sosok menggunakan topeng menyerupai wujud Kakek dan Nenek. Dialog dan gerakan yang ditampilkan membuat para penonton terbahak-bahak. Kakek dan Nenek merefleksikan para petani yang sedang menanam padi dan mengusir hama. Sebuah tampah berisi sesajian lengkap dengan ayam bakar, kopi, rokok, telur mentah, buah pisang, kembang dll. melengkapi penampilan mereka. Setelah kemunculan sang kakek dan nenek munculah sosok sosok yang menggunakan kostum hewan yang memerankan gerak-gerik hewan perusak pertanian dan perkebunan. Sosok hewan yang ditampilkan  adalah lutung, harimau, dan babi hutan.

Kesenian Badud Desa Margacinta
Bagian kedua penampilan Seni Badud oleh orang-orang dewasa.
Atraksi Kesenian Badud (dog-dog)
Atraksi Kesenian Badud (dog-dog)
Kesenian Badud Desa Margacinta
Kakek Nenek yang sedang mengucap syukur dan berdoa agar terhindar dari hama dan hewan penganggu pertanian/perkebunan
Sesaji yang di hidangkan di awal kesenian Badud ditampilkan.
Sesaji yang di hidangkan di awal kesenian Badud ditampilkan.

Kesenian Badud Desa MargacintaRoh Hewan yang merasuki salah satu lakon yang sedang memerankan Harimau

            Pertunjukan semakin sakral ketika beberapa orang yangg memerankan lakon hewan perusak pertanian dan perkebunan warga mengalami kerasukan. Rata-rata yang merasuki alam bawah sadar mereka merupakan sosok yang sedang mereka perankan. Suasana menjadi benar-benar tegang, tatkala para lakon hewan tersebut berlarian kesana kemari mencoba mendekati penonton atau mengambil makanan yang ada. Beruntung beberapa pawang sudah siap menjaga kondisi agar tetap kondusif dan dapat meredakan  kerasukan. Kesenian Badud benar-benar mencerminkan kesenian dan hiburan yang berasal dari rakyat.

Nasi Liwet Jolem Kuliner Bercita Rasa Sunda

             Lapar merasuk setelah menonton serangkaian acara yang menakjubkan dari dusun Margajaya. Beruntung kami semua diajak oleh warga untuk makan bersama (kembulan). Nasi liwet Jolem merupakan singkatan dari kejo nilem (nasi dan ikan nila) yang biasa disajikan hangat di dalam kastrol atau periuk nasi, lengkap dengan lauk ikan nila atau ikan mas berbumbu rempah-rempah. Rasa gurih berpadu di lidah saya. Bumbu yang meresap pada sela sela daging ikan membuat saya ingin menambah porsi makan.  

Sajian Nasi Liwet Jolem buatan warga dusun Margajaya, Desa Margacinta, Kab. Pangandaran
Sajian Nasi Liwet Jolem buatan warga dusun Margajaya, Desa Margacinta, Kab. Pangandaran

*****

Beristirahat di saung dengan suasana yang sejuk di Kampung Badud Desa Margacinta
Mengobrol di saung
Kampung Badud Margacinta dengan menggunakan dudukuy yangterbuat dari pelepah bambu
Menggunakan dudukuy yang terbuat dari pelepah batang bambu di Desa Margacinta

 

Berpose layaknya model dengan menggunakan Tas dari anyaman daun gebang
Berpose layaknya model dengan menggunakan Tas dari anyaman daun gebang
Famtrip Pesona Indonesia
Bersama Tim Famtrip Pesona Indonesia

      Segala suguhan khas yang berasal dari Kampung Badud seperti Jingkrung, kesenian Badud dan kulinernya─nasi liwet Jolem, tentu tidak akan terlupakan bagi saya juga wisatawan lainnya yang pernah merasakan singgah ke destinasi yang satu ini. Desa Margacinta tak hanya menjadi sebuah desa wisata namun Desa Margacinta dengan segenap potensi seni dan budayanya lahir sebagai benteng tradisi, artinya Desa Margacinta ada untuk terus mempertahankan dan menjaga warisan leluhur agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.

Perjalanan pulang singgah di Saung kerajinan Kolotok, Desa Margacinta

3 thoughts on “Desa Wisata Margacinta: Benteng Tradisi Kab. Pangandaran

    1. iya kang, mantap banget! tempatnya pun sangat-sangat mendukung. Di dalam perbukitan, dekat sungai yang masih bersih pula. benar benar suasana desa idaman. Itu foto ama dudukuy waktu nungguin cowok-cowok pada jum’atan .. nemu di mushola, ada dudukuy gede beneeeer. Berasa di Mexico~

Leave a Reply