Outdoor Activities · Travel Journal

Green Canyon: Zamrud Hijau dari Pangandaran

     Tak jauh dari Desa Wisata Margacinta, dengan berkendara selama 30 menit, Saya bersama Tim Famtrip Pesona Indonesia tiba di Cukang Taneuh, sebuah destinasi yang terkenal mampu memacu adrenalin. Saat itu langit pukul 11 kota Pangandaran yang tidak begitu cerah. Dari balik jendela mini bus yang masih melaju pelan, saya mengintip samar-samar aliran sungai yang tenang kehijauan pada sisi kiri jalan raya. Tampak perahu-perahu motor berderet di tepian dermaga, yang seolah menunggu datangnya rombongan wisatawan. Begitu tiba di kawasan parkir wisata Green Canyon, Kami turun menemui petugas yang akan memandu perjalanan kami.

     Dekat dari kantor operator yang kami pilih, terdapat beragam fasilitas tersedia lengkap seperti: kamar mandi, mushola, toko yang menjual pakaian serta peralatan berenang dan warung makan. Sebelum memulai kegiatan body rafting, kami mendapatkan briefing sederhana terlebih dahulu tentang aturan-aturan dan tata cara saat body rafting nanti.

“Nanti tetap hati-hati dan awas dengan lingkungan di sekitar ya teteh, aa’ sekalian. Jangan jauh-jauh dari saya, ya, biar tetap aman. Jangan lupa berdoa dan jaga sikap,” ujar pemandu dengan logat bahasa Sunda di tengah briefing.

      Saya mengikuti semua intruksi petugas sebelum turun ke Cukung Taneuh. Namun di sela waktu-waktu inilah kemudian Saya mencoba mencari informasi tempat tersebut—khususnya sejarahnya. Dengan iseng bertanya ke sana-sini, saya mendapatkan sedikit informasi mengenai sejarah bermulanya tempat ini. Dari info yang Saya dapatkan kalau tempat ini dahulu bukanlah tempat wisata terkenal. Ia masih berupa sungai liar yang sedikit orang mengunjungi. Sampai kemudian pada sekitar tahun 1993, seorang turis mancanegara  bernama Bill Jhon berkunjung ke sana. Karena kagum dengan keindah tempat itu, ia menyebut Cukang Taneuh serupa dengan pesona Grand Canyon, yang berada di Colorado, Amerika. Tidak aneh lalu kini kalau Cukang Taneuh  lebih dikenal secara mendunia dengan nama Green Canyon.

     Istilah Cukang Taneuh sendiri diambil dari bahasa lokal setempat. Waktu saya bertanya kepada salah satu pemandu, Cukang Taneuh memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Sunda.

“Cukang oleh masyarakat Sunda diartikan sebagai jembatan. Sementara Taneuh berasal dari istilah bagi tanah. Maka Cukang Taneuh berarti jembatan tanah,” jelas salah satu pemandu kami.

     Setelah mendapatkan informasi tentang tempat ini dan melakukan pemanasan agar otot-otot tubuh tidak kaku, Saya lekas memakai peralatan keamanan body rafting, seperti: rompi pelampung, helm, serta sandal karet untuk melindungi tubuh dari cedera parah akibat benturan atau gesekan dengan badan tebing sungai yang tajam serta terjal. Lalu Saya dan rekan-rekan dituntun menuju gerbang dermaga Cisareuh. Satu persatu kami menaiki perahu motor yang dapat diisi hingga lima orang lebih. Perlahan  perahu yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan sedang. Disusul dengan perahu motor lainnya.

Dermaga Cisareuh Green Canyon Pangandaran
Dermaga Cisareuh Green Canyon Pangandaran

       Saya sempat berbincang dengan Kang dede. Ia mengatakan bahwa pengunjung Green Canyon bisa mencapai ribuan setiap minggunya. Sedangkan total jumlah kapal yang tersedia di sini sekitar 80 perahu motor, yang dijadwal waktu beroperasinya. Beruntunglah selama perjalanan ini salah seorang dari rekan Saya membawa action camera yang tahan air. Maka Saya dan rekan-rekan bisa mendokumentasikan bagian-bagian yang indah di tempat ini. Namun, apabila tidak ingin repot-repot membawa alat dokumentasi, tak perlu khawatir. Pihak operator sudah menyediakan peralatan dokumentasi yang lumayan lengkap di sini.

     Kapal terus melaju dengan tenang, pelan, dan pasti. Ketika melintasi tubuh aliran air yang memanjang berwarna hijau, Saya mendadak ingat sebuah novel berjudul Life Of Pi karya Yann Martel. Novel itu dikisahkan seorang anak lelaki yang terjebak di tengap laut pada sebuah kapal dengan seekor harimau. Anak lelaki itu kemudian ketika terjebak seolah melihat keindahan yang begitu megah dari laut yang mengungkungnya. Begitu juga ketika Saya berada di atas kapal ini. Saya seakan melihat pantulan cahaya hijau dari dasar sungai Cijulang yang tampak tenang. Sungguh, Saya merasa jika tempat ini adalah sebuah patahan firdaus kecil yang tercerabut dari rumah Tuhan.

Menaiki perahu motor Green canyon Pangandaran
Bunda Nina yang sedang menaiki perahu motor Green Canyon Pangandaran bersama Tim Famtrip with Pesona Indonesia.

     Pada bibir-bibir sungai terlihat beberapa orang sedang memancing.  Mereka menunggu dengan khidmat umpannya pada alat pancing di sambar oleh ikan-ikan. Kami juga sesekali berpapasan dengan seorang warga yang sedang menepikan sampannya untuk mencari keong pada celah-celah bebatuan di pinggir sungai. Waktu perjalanan yang kami tempuh untuk sampai di spot pertama sekitar 15 menit. Spot ini biasa digunakan para pengunjung yang hanya ingin mengambil foto tanpa melakukan kegiatan body rafting. Dan tempat inilah yang menjadi pembatas perahu-perahu motor yang mengantarkan rombongan kami—karena di sana terdapat batuan-batuan berukuran besar menghadang di depan perahu yang kami tumpangi. Aliran di balik batuan mulai tampak deras mengalir ke bagian aliran sungai yang tenang. Sang pemilik perahu mengaitkan tali perahunya pada celah-celah batuan agar perahu tak terbawa arus sungai.

Green Canyon: Zamrud yang Terpendam

     Ngarai Hijau Green Canyon terbentuk  dari erosi tanah yang diakibatkan oleh aliran sungai Cijulang. Proses ini terjadi selama jutaan tahun yang lalu, menembus gua dengan kontur stalakmit dan stalaktit yang begitu cantik. Untuk mencapai titik awal body rafting, pengunjung dapat menempuhnya dengan dua cara. Pertama, yakni dengan menggunakan kendaraan yg disediakan pihak operator melewati jalur atas tebing. Kedua, melakukan tracking dengan menyusuri pinggiran sungai dan berenang melawan arus sungai.

      Saya bersama Tim Famtrip Pesona Indonesia memilih menggunakan jalur tracking menuju titik awal body rafting. Memilih jalur tracking dibutuhkan kesiapan fisik serta mental yang prima, karena waktu yang ditempuh sekitar 2 hingga 3 jam (±5 km) dengan medan yang bervariasi. Tak harus lancar berenang untuk mencoba olahraga yang memacu adrenalin ini, karena kemampuan berenang tak begitu diperlukan di sini. Terlebih lagi pada perjalanan ini  terdapat beberapa pemandu yang siap siaga menemani, asalkan kita mentaati peraturan dan mengikuti semua arahan yang diberikan oleh pemandu.

        Saya sangat menikmati seluruh bagian perjalanan. Saya bahkan sejenak mencuri waktu untuk menengadah melihat megahnya dinding tebing yang menjulang di antara aliran sungai yang membelahnya. Suara aliran air lengkap dengan rinciknya, pasti akan membuat tenang pikiran manusia-manusia perkotaan yang berkunjung ke sini. Rimbunan pepohonan di atas tebing seolah membentangkan payung alami dan indah bagi kami di antara ngarai. Kesegaran air dari aliran sungai Cijulang di Green Canyon terasa semakin nyata ketika bulir-bulir airnya mulai meresap pada setiap lapisan kulit Saya. Saya pun akhirnya memutuskan untuk menceburkan tubuh dengan perlahan di tengah tubuh sungai.

      Ya. Perjalanan pertama ini dilakukan dengan berenang melawan arus dengan meniti tali tambang hingga titik yang aman. Pada medan berikutnya, saya bersama teman-teman diminta untuk berpegangan pada batuan dengan kuat agar tidak terbawa arus sungai. Saya perlahan memindahkan jemari-jemari pada batuan lainnya. Bagi saya, teknik ini susah-susah gampang, karena harus mendorong badan agar tak terbawa arus, serta agak sulit menancapkan pegangan pada batuan dalam kondisi basah. Setelah sampai di batuan yang dapat dipijak, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan menyusuri pinggiran sungai.

Green Canyon Pangandaran Famtrip with Pesona Indonesia
Menyusuri Pinggiran Sungai.

Green Canyon Pangandaran Famtrip with Pesona Indonesia

Green Canyon Pangandaran Famtrip with Pesona Indonesia
Foto dari kiri: Kang Aip-Tari-Saya-Nana.

      Saya melangkahkan kaki dengan hati-hati supaya tidak terpeleset. Fokus memang sangat dibutuhkan agar tak salah dalam berpijak. Salah menautkan pijakan kaki, bisa jadi tubuh terjatuh ke bawah dan terperosok di antara batuan atau tercebur dan terbawa arus sungai.  Dan dengan bantuan beberapa teman, saya berpegangan agar tidak terjatuh saat berpindah dari satu pijakan ke titik pijakan lainnya. Cika, Mbak Ika, Bunda Nina dan Tari sudah lebih dahulu berada di depan. Tak lupa sesekali Kang Aip dan pemandu yang berada di belakang memastikan keadaan kawan-kawan pejalan pada rombongan ini.

Bersama Tim Famtrip Pesona Indonesia Green Canyon Pangandaran
Bersama Tim Famtrip Pesona Indonesia

        Saya terus berjalan mengamati jalur yang ada di depan. Rimbun pepohonan melingkupi di sepanjang bagian atas tempat ini melengkapi pemandangan tebing yang cantik Green Canyon. Di jalur ini saya sempat menemukan begitu banyak kotoran kelelawar. Saya berpikir kemungkinan pada langit-langit tebing, merupakan habitat kelelawar Green Canyon.  Begitulah. Tak jauh dari sana, kami sejenak beristirahat pada sepenggal bidang batuan yang datar dan cukup luas. Air pada aliran sungai memantulkan warna zamrud cemerlang. Begitu tenang suasana di sini karena lokasinya sudah berada cukup menjorok ke dalam ngarai. Setelah beberapa saat beristirahat, sebagian dari kami tetap melanjutkan perjalanan hingga titik awal dimulainya body rafting. Namun sebagian lainnya yang sudah kelelahan, memutuskan untuk menunggu di tempat yang dirasa aman dengan didampingi pemandu lainnya.

Sebuah Rantai Keseimbangan Kehidupan

     Saya bersama dengan Siska, Dendy, Kang Ain, Bunda Nina serta seorang pemandu melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal beberapa ratus meter di depan mata. Kami masih harus meniti jembatan sepanjang satu setengah meter yang terbuat dari besi untuk melewati celah antar batuan. Saya tampak gugup melewatinya, walaupun jembatan itu terbilang pendek. Terlebih pemandangan di bawah merupakan aliran sungai yang cukup deras dengan batuan kali yang besar di sekitarnya.

Rheevarinda Famtrip With Pesona Indonesia
                                  Mendekati titik dimulainya Body rafting.
Dari kiri: Dendy-Cika-Saya.

        Saat itu saya membayangkan sedang melewati jembatan yang menghubungkan celah jurang yang terdapat di Gunung Cartenz. Dengan dibantu oleh pemandu, saya berhasil melewatinya. Hanya sekitar 10 menit kami pun tiba di spot terakhir. Tampak luar biasa pemandangan dari sini. Terlihat kelokan dinding tebing yang berpadu padan dengan warna kehijau-hijauan. Airnya pun sangat jernih hingga dapat menembus batuan kerikil di dasar yang tak begitu dalam. Saya duduk membayangkan kegiatan lainnya yang mungkin dapat dilakukan di sini, seperti climbing ataupun memancing sambil menikmati teh hangat di pinggir sungai.

Green Canyon Cukang Taneuh Pangandaran

         Tak terasa waktu menunjukkan pukul lima sore, pemandu memutuskan untuk kembali agar kami semua aman dan tidak kelelahan. Kami akhirnya memulai body rafting di titik yang tidak begitu banyak jeram. Di sinilah waktu pulang terasa lebih cepat. Akhirnya, saya dan teman-teman Famtrip Pesona Indonesia pun kembali tiba di spot pertama dengan selamat. Kami kembali menaiki perahu motor yang sudah menunggu kami.

         Pada perjalanan itu saya tak habis disuguhkan beragam atraksi menarik. Tampak biawak menyembul di balik rimbunan semak di pinggir sungai, burung cekakak sungai (Todirhamphus chloris) yang mengepak sayapnya dan berpindah dari satu pohon ke pohon lain seolah menyapa kami. Seakan-akan mereka memberikan salam perpisahan. Green Canyon membuat saya terbesit bahwa ia bukan hanya sebagai tempat wisata, namun lebih dari itu. Layaknya sebuah zamrud, Green Canyon merupakan simbol kedamaian dan kemakmuran bagi dan masyarakat di sekitarnya. Tentunya juga sebagai rumah untuk flora dan fauna yang ada di dalamnya.   

8 thoughts on “Green Canyon: Zamrud Hijau dari Pangandaran

  1. Seru banget body Rafting disini. Next time mesti Cobain yang Kita ga usah menyusur bebatuan .Langsung meluncur .seru juga kayaknya

    1. iya kang aip lain kali kita coba pakai jalur yang lebih enak-enak yak ! hihi
      kamu gak duduk bareng aku sih, aku lihat bareng mba ika .. dia sempet terbang dari dahan ke dahan pohon lainnya.. mau foto apalah aku bukan macem potograper natgeo yang gercep ambil momen hihiihi

Leave a Reply