Review

Kafe 80’s Bocor Alus: Menyeret Ingatan pada Masa Lampau

       Kafe 80’s Bocor Alus hadir seperti oase dikala saya dan Risda melintasi terik hamparan sawah yang menguning di daerah Sewon, Bantul. Bangunan bergaya pendopo limasan berdinding jendela-jendela lawas berhiaskan ornamen barang-barang antik begitu mencolok dari kejauhan. Saya mencoba memacu kendaraan mendekati bangunan ini dari dekat. Akan tetapi sebelum benar-benar sampai di depan pintu bangunan, saya sempat ragu bahwa tempat ini merupakan sebuah kafe. Hal ini mungkin terjadi karena bangunannya lebih terlihat seperti pendopo atau galeri seni yang menampilkan berbagai macam barang antik─bahkan seperti toko-toko penjual barang jadul.

Kafe 80's Bocor Alus Sewon Bantul Yogyakarta
Bangunan pendopo Kafe 80’s Bocor Alus tampak dari depan

       Saya memarkir kendaraan di depan bangunan yang menghadap barat dengan persawahan persis di depannya serta selokan kecil sebagai pembatas antara ruang tebuka bebas dengan jalan umum Desa Bangunharjo—dengan air jernih—yang pada tepinya digunakan sebagai area parkir kafe. Saat dilihat dari dekat, Kafe 80’s Bocor Alus ini banyak memakan perhatian saya. Jendela-jendela tua berwarna-warni tampak begitu artistik kala disusun rapi menyerupai sekat atau dinding pendopo. Berbagai perabotan dapur seperti nampan, piring, dan wakul nasi yang terbuat dari seng tak luput dijadikan hiasan bagian luar pendopo.

Tampak bagian depan Kafe 80's Bocor Alus
Tampak bagian depan Kafe 80’s Bocor Alus

       Melangkah memasuki bangunan pendopo, saya disambut ramah oleh pramusaji yang berada di balik meja kasir. Ia segera menyapa saya yang tampak kebingungan karena baru pertama kali berkunjung kemari.

“Mari, mbak. Ada apa, mbak? Kalau mau pesan bisa langsung ke mbak-mbak di sebelah situ,” sapa pria ramah dengan penampilan nyentrik menggunakan topi dan kacamata. Belakangan ini baru saya ketahui bahwa pria dengan pakaian aneh itulah sang pemilik kafe ini. Menanggapi kata-katanya saya menengadah ke arah meja kasir dengan setumpuk daftar menu di sana.

“Selamat Siang, monggo, mbak, ini daftar menunya.” Sambut pramusaji dengan logat khas jawa.

Beragam menu masakan rumahan dan minuman tradisional di Kafe 80’s Bocor Alus

       Oh ternyata ini benar-benar sebuah kafe, ungkap saya dalam hati. Saya lantas menanyakan kepada peramusaji menu apa saja yang menjadi primadona di sini. Sambil tersenyum perempuan tersebut tampak cekatan menjelaskan menu andalan yang disuguhkan di Kafe 80’s Bocor Alus. Menu yang ditawarkan sangat bervariasi. Ada menu yang berupa masakan rumahan, seperti: mangut lele, sayur lodeh, sayur asem, pecel, dan ikan asin. Sedangkan pilihan menu untuk minuman tradisional beberapa, di antaranya: wedang uwuh, wedang secang, wedang jahe, wedang kapulogo, wedang jambu, susu tape ketan, es cincau, es campur, dan es kolang-kaling; yang tak lupa dilengkapi dengan beragam pilihan camilan enak. Harga yang dipatok pada kafe/menu ini pun sangat ramah di kantong. Dengan demikian saya tak sadar sudah memesan begitu banyak  makanan.

Baca Juga| Mathilda Batlayeri : Kisah Perjuangan Sebuah Kota 

     Di tengah menjamurnya kafe yang memonopoli ruang publik dengan menawarkan konsep desain minimalis dan industrial, Kafe 80’s Bocor Alus mempunyai cara lain mendesain tiap-tiap ruangannya. Bayu Arta─pemilik kafe─menjadikan tempat nongkrong dengan desain klasik/vintage era tahun 1980-an hingga 1990-an. Pada Kafe 80’s Bocor Alus terdapat tiga pendopo dengan konsep klasik yang berbeda-beda. Pada bangunan pendopo sisi paling selatan terdapat pernak-pernik perabotan jaman dulu yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Bagian  pendopo tengah ruangannya lebih banyak memajang ragam alat masak dapur jaman dulu. Sedangkan pendopo sisi utara lebih banyak dihiasi berbagai macam peralatan industri. Mayoritas barang-barang yang dipajang sudah tidak diproduksi lagi. Bahkan kini seakan hampir menghilang dari zaman. Seperti halnya telepon putar, mesin ketik, televisi hitam putih, lampu petromak, dan lain sebagainya.

Kembali di era tahun 80-an lewat kafe unik 80's Bocor Alus di Jogja
Kembali ke era tahun 80-an lewat salah satu kafe unik di Jogja
Bagian dalam Kafe 80's Bocor Alus dengan koleksi barang antik
Bagian dalam Kafe 80’s Bocor Alus dengan koleksi barang antiknya
Suasana yang begitu nyaman di dalam Kafe 80's Bocor Alus
Suasana yang begitu nyaman di dalam Kafe
Ornamen klasik pada langit-langit Kafe 80's Bocor Alus
Ornamen klasik pada langit-langit Kafe 80’s Bocor Alus
Baju kebaya di Kafe 80's Bocor Alus
Beragam koleksi baju kebaya di pendopo Kafe 80’s Bocor Alus bagian tengah
Kursi karet pentil yang ada di Kafe 80's Bocor Alus
Salah satu interior yang mengisi kafe 80’s Bocor Alus
Labirin waktu yang melekat pada tiap benda-benda antik

       Pencahayaan yang bagus dan lanskap persawahan pada luar jendela serta furnitur yang lebih terlihat santai, membuat kami memilih untuk nongkrong di bagian pendopo tengah. Sambil menunggu makanan dan minuman yang kami pesan, Saya dan Risda menghabiskan waktu mengobrol tentang apa saja. Termasuk bernostalgia dengan perabotan-perabotan dapur tua yang melintas samar-samar di ingatan masa kecil kami. Peralatan dapur dari sendok, piring seng, gelas seng, termos es, teko serta panci blurik berukuran besar, dan masih banyak lainnya seolah menjadi bilik mesin waktu bagi kami.

“Setiap benda-benda memiliki nilai historinya masing-masing. Dahulu Chairil Anwar pernah buat puisi, begini: ‘Nasib adalah kesunyian masing-masing’. Mungkin benda-benda ini terlihat tua, tapi pada letak kerapuhan dan kelampauannya inilah yang membuatnya penting. Kita bisa kembali bernostalgia hanya dengan melihat atau menyentuh sebuah benda. Kenang suatu zaman bisa tertanam hanya lewat sebuah barang,” ujar Risda yang waktu itu kagum melihat ornamen lama pajangan kafe itu.

       Saya memanggut membenarkan. Apa yang dikatakan oleh Risda itu mungkin ada benarnya. Setiap benda selalu terikat dengan peristiwa atau riwayat yang beragam di zamannya. Jadi kafe ini mungkin bisa dikatakan sebagai ruang nostalgia untuk siapapun. Begitulah mungkin bagi generasi 80-an atau 90-an, melihat benda-benda di dalam kafe ini bisa menyeret ingatan masa lampau mereka pada masa-masa di kala muda. Sementara bagi generasi 2000-an memasuki kafe ini layaknya memasuki museum untuk mengenal suatu zaman lengkap dengan ornamennya. Karena benda yang tampak asing dalam keseharian saya muncul dengan pengetahuan baru. Maka rasanya hari itu ketika mengunjungi kafe 80’s Bocor Alus, saya seperti tersedot lubang waktu untuk menziarahi masa lampau.

Bagian dalam Kafe 80's Bocor Alus
Bagian dalam Kafe 80’s Bocor Alus
Salah satu sudut pada pendopo bagian tengah Kafe 80's Bocor Alus
Salah satu sudut pada pendopo bagian tengah Kafe 80’s Bocor Alus

       Betapa larutnya saya dalam menikmati benda-benda antik dan hidangan yang tersaji di meja. Nasi Sayur lodeh lauk tempe dan tahu bacem begitu membius lidah saya dengan cita rasa yang otentik. Risda asik mengunyah daging ikan lele goreng yang dimasak dengan bumbu mangut. Mangut lele merupakan makanan khas yang banyak dijual di Yogyakarta, khususnya daerah Bantul. Warna kuning dari kuah mangut lele tampak menggoda. Risda sibuk menghabiskan makanan sambil menggoyangkan pelan tubuhnya dalam iringan keras lantunan tembang ‘Antara Benci dan Rindu’ yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Ratih Purwasih. Hawa panas yang sempat mengeringkan kerongkongan saya hilang dalam seruputan es susu tape yang manis menyegarkan. Suasana di cafe ini benar-benar dibuat sedemikian rupa agar bernuansa 80’an.

       Bagi pengunjung yang mempunyai hobi mengoleksi barang-barang antik dipamerkan pada kafe ini, tak perlu khawatir, karena barang-barang tersebut juga untuk dijual mulai dari harga Rp 5.000 – jutaan. Barangkali sekian dari ribuan koleksi perabotan kelak terjual oleh kolektor-kolektor barang antik dan tak dapat saya temukan lagi─ini membuat saya tak lupa mengabadikan diri saya melalui kamera pada latar belakang yang unik dan klasik.

 

INFO:

Kafe 80’s Bocor Alus

Jalan Parangtritis Km.5,5, Tarudan, Bangunharjo, Sewon, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55188 │Telp: 081-227-897-276 │IG: @tantejengki

 

6 thoughts on “Kafe 80’s Bocor Alus: Menyeret Ingatan pada Masa Lampau

  1. Wah, dari atapnya pun juga keliatan jadul. Tapi kontras denganbagian tubuh bangunan yang berwarna-warni, si atap terlihat tue melumut.

    Biasanya yang begini ini dicari anak muda untuk latar belakang foto sebagai feed instagram.

    Kreatif deh, jadi sekalian menyelam minum air. Jadi kafe tapi barangnya juga dijual xD

  2. Ternyata di Sewon ada tempat unik kayak gini..
    Bole ni jadi alternatif destinasi pas ke Jogja selain di kotanya..

  3. Sering lihat foto-foto kafe ini sliweran di lini masa, tapi ku belum jua jadi ke sana. Btw di rumahku masih dijumpai beberapa benda yang ada di foto ini lho. Barang-barang milik bapak ibuk.

    1. Kapan-kapan mampir Mba, kafenya deket sama jalan utama. jam jam siang menuju sore tuh sepi. Sambil minum es cincau.
      Waaaaa kapan kapan mampir rumah mu dong ya kalo begitu, Mba Sa
      Iya, barang-barang punya bapak ibu atau kakek nenek sayang banget buat dipindah tangan. Bisa buat kenang-kenangan lintas generasi soalnya.

  4. Terimakasih untuk review Kafe 80’s Bocor Alus nya.. Detail dan lengkap! Saya tertarik dengan interior nya yang sungguh menawan. Dihadirkan dengan konsep 80an, membuat kita yang berkunjung kesana, seperti sedang berada di mesin waktu ke tahun itu (walaupun saya tidak tahu sebenarnya seperti apa rupa suasana di tahun 80an). Meskipun begitu, setelah melihatnya dan membandingkan dengan mesin pencari Mbah Google, sangat mirip seperti tahun 80an! Antik dan berwarna warni seperti interior kafe itu..

Leave a Reply