Outdoor Activities · Travel Journal

Menyibak Pesona Taman Wisata dan Cagar Alam Pangandaran

      Pantai Pangandaran hari ini begitu terik. Ini merupakan hari terakhir saya bersama delapan sahabat FamTrip Pesona Indonesia melakukan petualangan. Setelah melihat puncak perhelatan Karnaval Seni Budaya Pangandaran 2018, siang ini kami menyempatkan diri untuk bertualang ke kawasan Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Pangandaran. Hanya sekitar 10 menit berkendara dari Hotel Grand Mutiara, kami tiba di kawasan parkir Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Pangandaran, Pantai Barat Pangandaran. Angin laut menyeruak dari sela dedaunan pohon waru laut. Sejumlah perahu tertambat di bibir pantai, menunggu sang pemilik menggunakannya. Terlihat beberapa anak dengan di dampingi orangtuanya sedang asyik mengejar ombak. Pada sisi lain sekelompok orang dewasa rajin berswafoto.

          Saya dan para sahabat berjalan menuju pinggir pantai mengikuti instruksi dari pemandu kami. Kami melintasi depan pintu gerbang Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Pangandaran. Untuk masuk ke kawasan ini pengunjung dapat menggunakan dua cara yakni, dengan melewati loket pintu masuk atau menempuh  perjalanan laut dengan menggunakan perahu motor. Ternyata Kang Dede─pemandu kami─ telah menyiapkan satu perahu motor.

           Kami bergegas menaiki perahu motor tersebut. Saya memposisikan diri untuk duduk di barisan paling depan.  Namun perahu motor yang kami tumpangi belum sepenuhnya dapat dijalankan. Kami masih harus sabar menunggu ombak datang menghantam dan menarik badan kapal ke arah lautan. Sembari menunggu perahu bergerak melaju, saya menggunakan rompi pelampung dan tak lupa mengamankan barang ke dalam dry bag. Kami semua menyemangati kapten perahu yang telah bersiap mendorong perahu ketika ombak datang.

Baca Juga: Ramai Riuh Karnaval Seni Budaya Kabupaten Pangandaran

Sensasi Pesiar di Teluk Pangandaran

       Akhirnya ombak yang kami nantikan datang, Perahu bergerak sedikit demi sedikit. Hingga mesin dapat mulai dijalankan. Ombak siang itu lumayan tinggi. Tak jarang cipratan airnya membasahi sekujur muka dan pakaian. Di balik kacamata hitam saya melihat pantai yang tak begitu luas berpasir putih di kejauhan. Tempatnya masih sepi, dibentengi tebing-tebing tinggi. “Di pantai bagian situ biasanya dijadikan tempat penyu-penyu bertelur. Makanya pengunjung tidak dapat sembarangan masuk ke wilayah itu, takut menganggu perkembangbiakan penyu-penyu di sini”, jelas Kang Dede kepada kami. Saya mengangguk paham, walapun dalam hati kecil saya, ingin rasanya melihat penyu tersebut dari dekat. Akan tetapi jika dapat dipahami, tidak melakukan kunjungan wisata ke habitat penyu maka secara tidak langsung kita turut mendukung keberlangsungan hidup para penyu tersebut.

           Banyak atraksi alam yang ditampilkan selama melakukan perjalanan laut. Saya dapat melihat dari jauh goa-goa yang terbentuk secara alami pada tebing-tebing karang pantai, di dekat perahu kami pun terlihat batu karang yang tampak mencuat dari laut.

“Goa yang besar itu yang dinamakan Goa Walet, kalau batu karang yang mencuat dari dalam laut itu namanya Batu Mandi. Nah, Batu Mandi biasa dijadikan tempat bagi masyarakat pesisir pantai Pagandaran untuk mengadakan acara hajat laut atau melarungkan sesaji yang merupakan bentuk syukur. Hajat laut rutin diadakan tiap bulan Suro”, kata Kang Dede.

          Saya merasa takjub dengan cerita Kang Dede karena dengan begitu saya dapat memahami bahwa ternyata masyarakat pesisir pantai di sini masih memegang teguh tradisi leluhur mereka. Walaupun itu hanya sebagai simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tradisi hajat laut menunjukkan bahwa dalam diri masyarakatnya masih memiliki sikap gotong-royong. Lamunan saya terbuyarkan kala air laut menciprati wajah, saya melihat batu karang berbentuk seekor kodok sedang berdiam di atas batu. Di bagian lain sebuah karang yang dinamakan Karang Raja Mantri tampak tinggi menjulang.

              Perahu motor kami memutar kembali ke kawasan Pantai Pasir Putih. Kami melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana kami semula yakni dengan memasuki ke Taman Wisata Alam dari Pantai Pasir Putih. Perahu motor kami mencoba mendekati bangkai kapal yang tersungkur di dekat Pantai Pasir Putih. Ternyata setelah saya ingat kapal ini merupakan kapal FV Viking yang sudah menjadi buronan interpol selama bertahun-tahun. Kapal yang pernah diberitakan di berbagai media tersebut mencuri ribuan ton hasil laut dari berbagai negara termasuk Indonesia. Pada tahun 2016 kapal pencuri bermuatan 2.000 gross ton tersebut berhasil ditangkap oleh TNI Laut di kawasan ini dan atas perintah dari Ibu Susi Pudjiastuti─Menteri Kelautan dan Perikanan─ Kapal FV Viking akhirnya ditenggelamkan. Saat ini bangkai kapal raksasa ini menjadi sebuah monumen dalam penumpasan illegal fishing di Indonesia.

Kapal Viking di Pasir Putih Pangandaran
Kapal Yang ditenggelamkan Bu Susi Pudjiastuti menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan Pantai Pasir Putih, Pangandaran

             Setelah puas melihat dari dekat bangkai kapal yang dikaramkan, perahu kami akhirnya bersandar di pinggir  Pantai Pasir Putih. Tekstur pasir pantai yang masih berupa pecahan karang dengan ukuran agak besar ini menujam telapak kaki  saya yang sebelumnya tak menggunakan alas kaki. Saya pun lantas memakai kembali sepatu agar kaki terlindungi. Kang Dede mengarahkan kami pada jalan setapak memasuki Kawasan Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Pagandaran. Cagar Alam ini mempunyai luas 413,9 ha dan 37,7 ha untuk luas kawasan Taman Wisata Alam.

               Dahulu sebelum menjadi Taman Wisata Alam dan Cagar Alam, tempat ini merupakan sebuah pulau kecil. Akibat proses sedimentasi selama ratusan tahun dari daratan Pulau Jawa maka menyebabkan pulau ini terhubung dan membentuk sebuah tanjung. Sehingga oleh masyarakat Pangandaran dinamakan Pananjung. Hutan di dalam Cagar Alam merupakan sisa-sisa aktivitas perkebunan di Jaman Belanda. Seiring dengan ditetapkannya kawasan menjadi kawasan konservasi maka kegiatan produksi hasil hutan pun dihentikan sekitar tahun1960-an hingga sekarang. Pada awalnya terdapat 3 padang rumput yang ada di Cagar Alam, yaitu Nanggorak, Badeto dan Cikamal. Namun sekarang hanya menyisakan padang rumput Cikamal. Dua padang rumput lainnya telah mengalami suksesi dan beralih menjadi hutan sekunder muda dengan didominasi oleh tumbuhan Harendong (Melastomamalabathricum L.), Marong (Cratoxylum formasum), Rukem (Flacourtia rukam), dan sebagainya. Kejadian tsunami yang menerjang daerah Pangandaran tahun 2006 mengakibatkan rusaknya 27 hektar mangrove, 383 hektar hutan pantai, dan 62 hektar tanaman pandan laut sehingga merubah karakteristik lanskap di Cagar Alam.

*****

           Dibalik deretan pohon waru laut, terdapat jalan setapak yang langsung menuju pada kedalaman hutan yang rimbun. Suasana begitu sunyi hanya terdengar derap langkah kaki kami yang menyibak dedaunan kering di sepanjang jalan. Pemandangan begitu indah di kala musim kemarau. Warna kuning dan oranye mendominasi hutan ini. Saking rimbunnya kami juga harus memperhatikan apa yang ada di sekitar kami. Salah-salah berjalan, kepala bisa jadi tertabrak dahan atau ranting pohon yang mencuat disekitar jalur. Pada kiri jalur saya sempat melihat cerukan sungai yang kering. Kondisi jalur begitu landai. Sehingga tak begitu membuat kami kelelahan. Selama tracking beragam jenis pohon dapat saya jumpai seperti pohon jati dan mahoni. Saya sempat menjumpai tupai yang hinggap di atas batang pohon sambil sesekali mengintip Tim kami. Tak lama berjalan kami pun tiba di persimpangan jalan dan mengambil arah ke Situs Batu Kalde.

Penunjuk Arah Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Pangandaran

Situs Batu Kalde: Kepingan Sejarah Abad ke-8

            Kepingan-kepingan balok tampak berserak di sebidang area. Saya melihat balok batu yang menyerupai bagian-bagian arca pada bangunan candi hindu yang biasa disebut Yoni dan Nandini─sebuah arca berbentuk anak sapi dainggap keledai oleh masyarakat setempat (sehingga dalam bahasa sunda disebut kalde).

Situs Batu Kalde
Arca Yoni dan Nandini yang biasa terdapat pada Candi Hindu

             Arca tersebut menurut sejarah tutur masyarakat diyakini merupakan penjelmaan seorang nahkoda gagah berani dan sakti, Raden Arya Sapi Gumarang yang kala itu menjabat sebagai menteri pertanian Kerajaan Pananjung. Karena nilai sejarahnya, situs Batu Kalde dianggap sebagai tempat sakral, kramat dan suci. Sampai saat ini Situs batu Kalde masih dalam tahapan eskavasi, karena diduga masih terdapat peninggalan sejarah lainnya yang masih terkubur di sekitar tempat ini. Dengan ditemukannya Situs ini dimungkinkan di Pangandaran telah ada peradaban pada masa lampau.

Situs Batu Kalde Pangandaran

Penjaga Situs Batu Kalde
Penjaga Situs Batu KaldePenjaga Situs Batu Kalde

Gua Miring: Rumah Staklatit Berbentuk Pocong

             Perjalanan masih terus berlanjut. Kami diajak untuk memasuki lebih jauh kawasan hutan. Di perjalanan kami sempat berhadapan dengan beberapa monyet. Pemandu memperingatkan kami agar tidak memberi makan, serta tidak membawa barang ataupun memasukan tangan ke dalam saku. Sekitar jalan menuju Gua Miring terdapat pohon kondang yang buahnya tumbuh pada ranting dan batang pohon. Ternyata buah dari pohon ini adalah buah yang biasa dimakan oleh monyet-monyet yang berada di kawasan Taman Wisata Alam dan Cagar Alam ini.

Monyet Penghuni Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Pangandaran
Sedang melamunkan sesuatu
Pohon Kendang Flora di Taman WIsata Alam dan Cagar Alam Pangandaran
Buah pohon kendang biasa menjadi salah satu sumber makanan monyet di Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Pangandaran
Gua Miring, Pangandaran Tim FamTrip Pesona 2018
Berpose sebelum menjelajahi Gua Miring, Pangandaran

          Sebelum memasuki Gua Miring, kami dipinjamkan senter agar dapat membantu penglihatan selama di dalam gua yang gelap. Masuk ke dalam Gua Miring dibutuhkan teknik dan kehati-hatian, karena tipe kontur mulut gua mengharuskan kita untuk memiringkan badan serta merunduk. Begitu masuk hawa dingin dan lembab menyelimuti tubuh saya. Saya mencoba beradaptasi dengan indra pengelihatan dari terang ke gelap. Lama-kelamaan saya pun dapat menyesuaikan. Ternyata tak butuh lama waktu lama melewati Gua Miring. Sumber cahaya dan suara laut pada ujung gua, mempercepat langkah kaki saya yang berada di barisan paling belakang. Sebelum keluar dari gua kami melewati celah gua yang diatasnya terdapat  stalaktit berbentuk seperti pocong. Sambil tergesa-gesa saya mengambil gambar dan lekas meninggalkan gua karena bulu kuduk berdiri saat melihat ornamen stalaktit itu.

Gua Miring Pangandaran
Stalaktit yang menyerupai bentuk pocong
Mulut Gua Miring Pangandaran
Mulut Gua Miring Pangandaran

Gua Parat / Keramat Habitat Landak Gua

        Angin menggerakkan daun-daun pohon waru, di luar gua tampak pemandangan indah pantai yang begitu sepi. Hanya ada satu nelayan yang sedang mencelupkan pakaian ke dalam air, serta beberapa perahu motor kosong tertambat di pantainya. Berjalan sedikit ternyata disebelah Gua Miring terdapat satu gua lagi yang dapat dijelajahi. Gua Parat atau Gua Keramat merupakan gua tempat bersemedi dari Mesir, yaitu Pangeran Maja Agung, Pangeran Kanoman (Syech Muhammad), Pangeran Kesepuluh (Syech Ahmad), dan Pangeran Raja Sumenda.

               Bentuk mulut gua pun lebih besar ketimbang Gua Miring. Langit-langit gua begitu tinggi. Saya melihat sekumpulan kelelawar yang terbang kesana-kemari ketika Tim kami melewatinya. Tak lama berjalan dengan suasana yang gelap dan lembab pemandu tiba-tiba memberhentikan kami semua. Saya pun kaget.

“Lihat itu di dalam lubang itu ada landaknya. Hati-hati dengan bulunya. Landak di sini sudah kelihatan jinak karena sering diberi makan oleh pengunjung”, ujar teman Kang Dede.

            Perlahan landak-landak tersebut muncul mendekati kami. Memang ada beberapa ekor landak jinak yang kini tinggal di dalam Gua Parat dan landak-landak tersebut sudah tidak asing dengan kehadiran manusia. Beranjak ke tempat lain di sisi gua terdapat staglatit menyerupai paha ayam, batu menyerupai punuk unta, sera batu kendang dan batu gong yang dapat berbunyi ketika ditabuh. Lebih masuk ke dalam perut gua terdapat dua batu yang menyerupai alat kelamin pria dan alat kelamin wanita. Ada yang percaya, jika ingin mempunyai hubungan yang awet dengan pasangan, maka orang tersebut harus memegang batu yang mirip alat kelamin lawan jenisnya.

Stalaktit berbentuk Paha Ayam
Stalaktit berbentuk Paha Ayam
Ornamen staklaktit berbentuk alat kelamin pria di Gua Parat
Ornamen staklaktit berbentuk alat kelamin pria
bATU cIKARACAK
Batu Cikaracak, cekungan pada batu tersebut terbentuk akibat tetesan air

   

Batu Punuk Unta
Batu yang menyerupai punuk unta

         Karena keunikan-keunikan berbagai batu, Gua Keramat pernah dijadikan lokasi pengambilan gambar film “Mak Lampir”.  Tokoh yang berperan sebagai Mak Lampir memanfaatkan keberadaan salah satu batu, yakni Batu Cikaracak sebagai alat kekuatannya. Diceritakan, pada Batu Cikaracak, “Mak Lampir” dapat melihat dan mengetahui lokasi lawannya. Batu Cikaracak di bagian atasnya membentuk cekungan. Cekungan tersebut akibat terkena tetesan air dari atasnya yang terus menerus. Air yang tertampung dalam batu konon tidak pernah kering walaupun di musim kemarau.

                Sebelum keluar Gua Parat saya diharuskan menunduk karena langit gua yang begitu rendah dan saya mendapati satu batu unik yang menyerupai jakun. Berakhir sudah penjelajahan gua sepanjang 200 meter dan gua lainnya yang terdapat di Taman Wisata dan Cagar Alam Pangandaran.

Gua Parat / Keramat

 

******

               Jam telah menunjukkan pukul empat sore. Kami pun menelusuri jalan pintas untuk kembali ke perahu kami. Sebelum menaiki perahu kami disuguhi kesegaran air kelapa muda yang begitu nikmat. Begitu menyenangkan menikmati air kelapa di pinggir pantai yang surut airnya. Setelah puas kami kembali menaiki perahu kami. Perahu motor membelah pekatnya biru laut Teluk Pangandaran. Bangkai kapal tampak dramatis dengan cercahan yang membentuk cahaya-cahaya surga di sore hari. Sayangnya kami tidak dapat melihat sunset di pantai ini karena harus bergegas mengejar kereta di Stasiun Banjar. Di atas kapal saya mengucapkan salam perpisahan. Rindu pun mulai bertalu setelah saya meninggalkannya.

Sebuah jembatan, di bawahnya terdapat sungai yang kering karena musim kemarau
Sebuah jembatan, di bawahnya terdapat sungai yang kering karena musim kemarau
Menikmati Kelapa Muda di Pantai Pasir Putih Pangandaran
Menikmati Air Kelapa Muda di Pantai Pasir Putih Pangandaran

Bersama TimFamtrip Pesona Indonesia 2018 Bersama TimFamtrip Pesona Indonesia 2018

Menikmati Kelapa Muda di Pantai Pasir Putih Pangandaran
Menikmati Kelapa Muda di Pantai Pasir Putih Pangandaran

Informasi & Tips Mengunjungi Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Pangandaran:

  • Sebaiknya menyewa pemandu agar mendapatkan penjelasan mengenai lokasi-lokasi yang akan dikunjungi dan agar tidak tersesat mengelilingi kawasan ini. Harga tergantung kesepakatan, biasanya dikenakan tarif ± Rp150.000
  • Cobalah menawar harga sewa perahu motor dengan bahasa Sunda
  • Jarak tempuh pesiar menggunakan perahu motor sekitar 30 menit, dengan Trekking di dalam kawasan Taman Wisata Alam selama ± 90 menit
  • Terdapat penyewaan peralatan snorkeling di Pantai Pasir Putih
  • Pantai Pasir Putih tempat yang indah untuk menikmati matahari tenggelam
  • Membawa air minum (sebaiknya tidak menggunakan air minum kemasan sekali pakai)
  • Memakai alas kaki, agar tidak menginjak tumbuhan berduri, atau tergores karang yang tajam

Baca Juga: 

Desa Wisata Margacinta: Benteng Tradisi Kab. Pangandaran

Green Canyon: Zamrud Hijau dari Pangandaran

 

One thought on “Menyibak Pesona Taman Wisata dan Cagar Alam Pangandaran

Leave a Reply