Uncategorized

#ExploreBali 2016 (Part 2) – Dari Desa Adat Sampai Taman dengan Arsitektur Bercorak Kolonial

“Tenganan Desa adat yang teguh menjaga warisan nenek moyang Bali Aga dan Akulturasi budaya pada arsitektur indah Taman Ujung Soekasada”

Day 2 (Selasa, 24 Mei 2016)

           Menyongsong hari kedua saya beserta finalis dan Tim AirportID menjelajah seluk beluk Bali seusai bersantap pagi di De Dapoer Restaurant Hotel The Oasis Lagoon Sanur, Perjalanan saya kali ini berhenti di Desa Tenganan Pegrisingan yang berada di Kecamatan Manggis, Karangasem. Disebut Desa Tenganan karena pada awalnya desa ini terletak di pesisir pantai lalu berpindah ke daerah tengah (Menengah).  Sedangkan pegrisingan merupakan sebutan bagi kain tenun berbahan warna alami dari kelopak pohon (babakan), kepundung putih dicampur kulit akar mengkudu yang menghasilkan warna merah, minyak kemiri yang di campur dengan air serbuk/abu kayu agar bewarna kuning dan pohon taum sebagai pewarna hitam.

image

Pintu Gerbang desa adat Tenganan Pegrisingan

image

Bale Gambang

image

Suasana desa yang tenang dan sepi

image

Bale Jineng

image

Menikmati seluk beluk desa

image

Menunggu kain tenun geringsing terjual

image

Lembaran kain tenun dan alat pemintal benang

image

Beragam motif kain tenun Pegrisingan yang sudah jadi

image

Corak simetris pada lembaran kain tenun pegrisingan

     Kain tenun pegrisingan mempunyai filosofi hidup bagi masyarakatnya, kain ini biasanya berpola simetris dipercaya oleh masyarakat Bali Aga sebagai penolak bala yang kerap digunakan dalam upacara adat. Setiap lembaran kain merupakan lembaran eksklusif karena pembuatannya yang lama, tidak heran semakin lama kain geringsing semakin bagus dan kuat pula tekstur kain.Banyak masyarakat desa yang membuat kain tenun pegrisingan ataupun kerajinan seni lukis/ukir dengan media daun lontar.

image

Mencari sesuap nasi dengan menjual hasil kerajinan ukir / lukis daun lontar

             Berjalan menelusuri setiap jengkal desa dengan terkantuk-kantuk melihat penampakan perbukitan hijau mengelilingi desa yang penghuninya merupakan masyarakat Bali Aga ( Bali Asli). Masyarakat Bali Aga masih menjunjung tinggi adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Bangunan dibuat dan diatur tata letaknya dengan sedemikian rupa. Rumah-rumah berderet beratap rumbia. Teknologi pembuatan rumah masih menggunakan campuran batu kali dan batubata dari tanah liat. Proses pembuatan batubata tersebut bisa memakan waktu sekitar sebulan. Batu-batu kali disusun sedemikian rupa dan direkatkan dengan tanah liat. Tidak seperti rumah adat Bali pada umumnya.

image

Dinding bangunan rumah yang terkikis seiring bergantinyan jaman

image

Nyore di depan rumah

image

Membuat atap rumbia

image

Mayoritas masyarakat desa memelihara ayam

image

Lihat-lihat ayam dalam kurungan

image

Ayam yang banyak berkeliaran di lingkungan desa

           Pemandu yang mengantarkan kami menuturkan bahwa saking menjaga keaslian desanya disini pernikahan menganut sistem endogamy, yakni menikah dengan orang yang masih satu lingkungan. Pada bulan Juni banyak di adakan upacara adat. sayangnya waktu kunjungan saya tidak bertepatan dengan diadakannya upacara adat. Tandanya saya harus kembali ke sini lagi. Semoga.

image

           Meninggalkan Desa Tenganan melaju kencang di jalanan menuju destinasi selanjutnya, Taman Ujung Soekasada yang masih terletak di daerah karangasem. Belum lelah kami menilik tempat yang biasa disebut istana air ini dulunya merupakan istana kerajaan karangasem. Dari pintu masuk, suguhan suasana romantisme begitu melewati jembatan berkanopi bunga-bunga merah jambu begitu memberikan kesan menyatu dengan alam. Beruntung kami di sambut oleh Bapak I Nyoman Matal (Kepala Badan Pengelola Taman Ujung Soekasada) yang rela menjamu saya dan Tim AirportID dengan segelas kopi panas dan jajanan tradisional Bali. Taman cantik ini di bangun dengan perpaduan arsitektur Eropa , Cina dan Bali yang merupakan hasil dari akulturasi budaya di jaman Kerajaan Karangasem.

image

Jembatan romantis yang bisa digunakan untuk berfoto-foto

image
image

Arsitektur bercorak Belanda, Bali dan Cina yang terpengaruh timur tengah

image

Jembatan yang menjembatani saya ke ruang imaji pada masa kejayaan kerajaan Karangasem

image

mozaik keramik kaca yang mengingatkan saya pada bangunan tua peninggalan Belanda

image
image
image
image
image

 Tempat bersantai raja sambil memantaulalu lintas kapal di selat lombok

         Di sudut lain saya memendarkan pandangan ke arah bangunan yang berdiri di atas kolam dengan jembatan yang menghubungkannya. Refleksi bangunan pada air kolam membuatnya tampak sempurna. Terkadang sekelompok ikan tidak malu-malu memunculkan dirinya ke atas permukaan air kolam. Percikan-percikan air dari kolam kolam kecil dan angin yang berhembus perlahan membuat pengunjung merasakan sensasi relaksasi ditambah angsa dan kalkun yang sengaja dilepas bebas berkeliaran. Pemandangan dari atas Taman Ujung ini tidak kalah mempesona karena terlihat pantai dari kejauhan.

image

Refleksi bangunan utama kerajaan

 

image
image

Relief yang ada pada dinding bangunan, pada Pilar, menceritakan epos Ramayana dan Mahabharata

image
image

           Menutup perjalanan kami dengan sunset tampak membara pada langit di O’ Beach Club pantai Karang, Sanur begitu berkesan. Saya merebahkan tubuh pada kursi-kursi pantai sembari menunggu bulan penuh terbit menggantikan. Secangkir kopi serta cemilan-cemilan pun di hidangkan bersama api-api unggun menemani kami bercengkrama mengenal satu sama lain lebih dekat menjadi keluarga baru.

O’ Beach Club – The Oasis Lagoon Sanur

2 thoughts on “#ExploreBali 2016 (Part 2) – Dari Desa Adat Sampai Taman dengan Arsitektur Bercorak Kolonial

  1. Wahhh pengen liat langsung deh tempatnya disanaa.. indahh tenangg amann damaii banget keliatnannya. Eh btw, mgkin gak akan jauh beda lah dengan rumah disini min. Karena tempatnya emang persawahan disini. Hehe
    Terimakasih sudah berbagi

Leave a Reply