Travel Journal

#ExploreBali 2016 (Part 4) – Lengkap ! Bermain di Sawah, Museum, dan Melihat Senja di Bukit

“Bermain ke sawah berundak Tegalalang, Mengenal budaya Indonesia melalui topeng dan wayang dan memburu senja menapaki kaki bukit Campuhan”

Day 4 (26 Mei 2016)

Pulau Bali memang tidak ada habisnya menyuguhkan matahari terbit dan tenggelam. Dan semalam adalah hari terakhir saya dan teman-teman bermalam di Hotel The Oasis Lagoon. Berat rasanya meninggalkan hotel yang begitu nyaman untuk di tempati beberapa hari ini. Pun saya belum sempat menyentuh kesegaran air kolamnya karena aktiitas yang padat. Berharap suatu saat bisa kembali lagi kesini entah bersama teman ataupun memboyong keluarga. Saya dan Tim AirportID melanjutkan destinasi selanjutnya menuju sawah berundak-undak (Rice Terrace) atau kadang dikenal dengan sawah terasering yang mempunyai sistem pengairan subak di daerah Tegalalang, Ubud yang saat ini sedang menjadi salah satu spot tersohor di Bali. Karena makanan pokok masyarakat bali adalah beras tidak heran bentangan sawah mendominasi di tempat ini.

Pemandangan sawah berundak Tegalalang Bali
Pemandangan sawah berundak Tegalalang, Bali

         Sistem  pengairan sawah secara tradisional ini sangatlah efektif untuk menanggulangi kendala seperti kekurangan air, hama dan pestisida baik di tanah maupun di air. Maka pada tahun 2012 UNESCO mengakui Subak (Bali Cultur Landscape), sebagai Situs Warisan Dunia sehingga banyak wisatawan mancanegara yang berbondong-bondong datang. Saya berharap agar banyak orang yang sadar sistem terasering seperti ini merupakan budaya yang perlu dilestarikan. Udara yang masih sejuk dengan angin berhembus menyegarkan membuat saya berimajinasi untuk duduk di saung-saung yang ada di pematang sawah sembari memasang hammock. Pagi atau Sore hari adalah waktu yang pas mantap berkunjung ke Terasering Tegalalang. Buat yang ingin trekking bisa melewati jalanan menurun di sebelah RiceTerrace Cafe. Disepanjang jalanan aspal di tegalalang dapat dengan mudah ditemui toko-toko yang menjual berbagai macam souvenir lucu dan unik.

image
Jangan sampai main di persawahan yang hijau seperti ini menjadi sesuatu yang langka kelak ketika mendewasa
image

Wisatawan yang takjub dengan keelokan alam budaya Bali

Petani Tegalalang Bali
Petani yang menyunggi hasil aritan rumput untuk pakan ternak
Bob Marley Souvenir Tegalalang Bali

Menjamurnya toko-toko souvenir, jadi mau bawa oleh-oleh apa buat yang di rumah ?

      Melanjutkan roadtrip mengeksplor pulau Bali tidak membutuhkan waktu lama saya tiba di Rumah topeng dan wayang Setia Darma di  Jalan Tegal Bingin, Banjar Tengkulak Tengah, Kemenuh Village, Sukawati, Gianyar.  Serupa museum namun staf pengelola bapak A. Prayitno lebih menyukai galeri ini disebut sebagai rumah karena museum konotasinya berjarak. Rumah ini didirikan pada tahun 1998 dan memiliki ribuan koleksi Topeng, Wayang dan boneka yang jumlahnya masih akan terus bertambah. Topeng yang dikoleksi kebanyakan berbahan dasar kayu jati dan kayu lain yang kuat sehingga tahan oleh terpaan kondisi cuaca di jaman yang trus berubah ini.

Pintu Masuk Museum Topeng Setia Darma Bali House of Mask & Puppet
Pintu Masuk Museum Topeng Setia Darma Bali
image

Sesi bincang-bincang santai dengan pak A Prayitno

image

Bangku unik dari batu di tengah taman menarik teman-teman saya untuk bersantai dan berselfie ria

image
image
image

Terdapat banyak joglo dengan peruntukan yang berbeda-beda

image
Barong
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
image
Topeng Bali
image
image
image
image
image
image
image
Etalase koleksi topeng dari berbagai negara
image
image
image
image
image
image
image
Wayang Religi
image
image

Koleksi terbaru wayang presiden Indonesia

image
image

Reyog Khas Ponorogo beserta sepasang Kuda lumping

Suasana alam yang asri dipadukan dengan unsur kesenian dan budaya membuatnya menjadi pengalaman yang tidak terlupakan terlebih lagi saya mempunyai kesempatan untuk berbincang-bincang dan bertukar pengalaman mengenai segala hal kesenian dan budaya topeng, wayang dan tarian dengan staf Rumah Topeng dan Wayang, Bapak A. Prayitno. Beliau berpesan agar generasi muda mudi terus melestarian kesenian topeng di setiap daerah asal atau yang dikunjungi, terlebih bisa merekam berbagai tarian tradisional yang masih menggunakan topeng sebagai medianya tariannya.

image

Joglo yang di fungsikan sebagai aula atau tempat diadakannya pertunjukkan seni tari / wayang

image
image

Sungguh terbelalak ketika ditunjukkan ruangan lain selain ruang pameran yang berfungsi sebagai tempat menyimpan topeng, wayang dan boneka dari berbagai pelosok Indonesia dan Dunia ! seperti Afrika, Jepang, Cina, Myanmar, Kamboja, Thailand, Malaysia dll.

image
image
image

Koleksi lain yang tidak di pamerkan di simpan rapi di satu ruangan penyimpanan

image

Wayang Boneka yang menyerupai pemilik dan staf pengelola Rumah Topeng Setia Darma

           Perjalanan belum berakhir sampai disini, kami berencana menikmati suasana sore di bukit Campuhan yang letaknya di Ubud. Ini kali pertama saya tidak hanya lewat daerah ini yang ternyata memiliki keindahan terselubung. Trekking melewati jalanan kecil yang awalnya meragukan sontak berubah menjadi ±15 menit trekking yang menyenangkan begitu mendapati rumputan hijau terhampar di sepanjang jalanan berkonblok batuan yang biasa digunakan untuk jogging track.  Di kawasan ini ada sebuah pura bernama Pura Gunung Lebah, sehingga kawasan tersebut dikenal juga dengan nama Bukit Gunung Lebah.

Jogging Track di Bukit Campuhan, Bali
Jogging Track di Bukit Campuhan, Bali

      Bukit campuhan yang kini ramai oleh wisatawan domestik dan mancanegara yang sekedar ingin berolahraga atau jalan santai tetap saja menjadi tujuan bagi siapapun yang hendak ke Ubud. Jangan lupa membawa botol air mineral karena trekking menuju ke lokasi lumayan menguras tenaga akan tetapi tidak menguras kantong karena tidak dikenakan biaya masuk sama sekali. Jika ingin menikmatinya dengan bersepeda, banyak disekitar pinggir jalan menawarkan penyewaan sepeda berkisar Rp 20,000 / hari.

image
Jogging bersama hewan peliharaan
image

        Setelah menyaksikan langit kemerahan dan mengabadikan bukit dari berbagai sudut saya menuju tempat peristirahatan Puri Sunia Resort yang masih berada di daerah Ubud. Pelayan cantik menyuguhkan welcome drink teh rosella serta handuk hangat begitu kami datang. Hotel yang memberikan nuansa alami pedesaan ubud membuat badan nyaman berelaksasi, kamarnya pun di lengkapi dengan wewangian aromatheraphy.

image

Kamar dengan dekorasi kelambu dan furniture dari kayu

Kamar Mandi yang begitu luas dilengkapi bath up.
Paling suka dengan aroma theraphy dan wewangian seperangkat sabun shampoonya. So Naturally !

Leave a Reply