Uncategorized

Kisah tentang mengalahkan diri sendiri dari tingginya tebing nan cantik

Saat berada pada titik awal sebuah perjalanan saya tak pernah lupa untuk berpamitan dengan kedua orang yang paling saya cintai di hidup saya, ini merupakan ritual dari keseharian saya sebelum menempuh ratusan kilometer rel-rel besi yang sudah ada sejak jaman pemerintahan Hindia Belanda. Perjalanan ke barat kali ini bukan untuk mencari kitab suci seperti cerita salah satu tokoh utama dalam film legendaris semasa kecil melainkan untuk sekedar berkumpul bertukar cerita secara langsung dalam suatu kehangatan yang diwujudkan dalam  Gathering Nasional salah satu komunitas yang menjadi tempat saya bernaung, bertukar pengalaman, belajar tentang apapun, bermain, dan berteman dengan berbagai latar belakang individu yang diadakan secara singkat 3 hari 2 malam di Pinggiran Bandung, Bumi Perkemahan Kiara Payung. Packing standar beperjalanan untuk beberapa minggu sudah saya persiapkan jauh-jauh hari mengingat saya berniat untuk menetap agak  sedikit lebih lama pada hati pria yang saya cintai kota Bandung.

Seusai hasrat kerinduan pada GathNas Kaskus OANC tersalurkan, rencana tiba-tiba muncul untuk berkunjung ke tempat latihan memanjat para sahabat saya dari ICE (Indonesian Climbing Expedition).Tak lain karena kedua kaki yang panjangnya tak lebih dari 23,5 cm ini merengek untuk berlatih memanjat bersama di markas. Dengan berbekal informasi dari saudara sepupu, saya menghadang angkot menuju terminal Cicaheum.

“A’ kiri yah, pas di depan terminal Cicaheum”, ujar saya kepada mamang sopir angkot Biru Hijau dengan logat Jawa saya.

Dan tak lama melalui jalanan kota yang penuh sesak angkot dengan berjalan sedikit melewati gang sebelah terminal sampailah saya pada lokasi yang menjadi tujuan kedua saya di Bandung. Terasa sambutan hangat sahabat di kala itu, jangan heran karena tidak dijamu dengan welcome drink layaknya hotel-hotel berbintang mewah melainkan dijamu dengan point warna warni yang melekat pada wall climbing, siap dicengkram dan dipijak. Jam demi jam tidak terasa jika melewatkan sesuatu yang menyenangkan.

“Gus, Ayok besok manjat sama saya dan Amar di tebing Citatah. Berangkat pagian kita biar gak terlalu panas dan macet” , kata kang Palah salah satu instruktur panjat di Indonesian Climbing Expedition

“Hayuk lah, jadikeun kang. Tapi saya masih rada-rada takut ini gak apa-apa ?”

“Woles, kan ada saya dengan teman-teman yang lain. Sekalian nanti kamu belajar disana”, jawab kang Palah dengan logat ke-sunda sunda-annya

Dan latihan berhenti di sore hari ketika ajakan spontan dari salah seorang teman untuk melakukan latihan pemanjatan di tebing Citatah 125 esok hari. Tentu saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan menolak ajakan menggiurkan tersebut, karena ini akan menjadi pengalaman pertama bagi saya yang masih awam belajar panjat memanjat.

Keesokan hari saya kembali datang ke markas untuk membawa tas keril berisi peralatan memanjat yang beratnya lumayan menjemukan punggung untuk beberapa jam kedepan. Berusaha berdamai dengan kemacetan jalanan kota – Padalarang beruntunglah kami menggunakan motor sehingga dapat menyelinap diantara roda-roda empat dan bumbungan kepulan asap lalu lalang kendaraan. Sampai di Basecamp pemanjatan dengan suasana yang masih sepi, terlihat dari sisi luar jendela. Saya tidak menyangka tebing menjulang tinggi yang saya lihat dari bawah ini beberapa menit yang akan datang nantinya akan menjadi tempat latihan memanjat kami. Dengan berlatar pengalaman memanjat tebing Gunung Api Purba di Yogyakarta beberapa minggu yang lalu membuat saya merasa saya belum begitu siap untuk di uji pada tebing Citatah 125. Keraguan saya pun bertambah ketika kami hanya akan melakukan pemanjatan berdua, setelah teman yang lain mengabarkan tidak bisa ikut menemani. Otomatis dengan keadaan yang seperti ini kami dituntut untuk saling bisa bekerjasama di atas ketinggian sana.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Slap pertama tidak begitu curam, sehingga tangan dan kaki saya dapat meraih pegangan dan pijakan. Setelah memanjat melewati pitch pertama berbentuk goa setinggi 10m diatas dasar tebing, saya pertama kalinya mencoba teknik Chimney di celah tebing citatah 125 hal ini saya lakukan untuk mencapai pitch kedua. Serasa kembali ke masa anak-anak yang suka memanjat lorong pintu dengan merentangkan tangan dan kaki ke arah berlawanan untuk naik perlahan keatas. Penggunaan chalk atau bubuk magnesium pun di kurangi sebisa mungkin agar tidak merusak bebatuan. Tangan yang licin karena keringat kadang menjadi kendala saat meraih pegangan. Ah makin tinggi saja medan yang harus saya panjat ini membuat saya sempat diselimuti rasa takut dan lupa bagaimana harus memulai membuat kaki dan tangan menapak tebing dengan sekuat tenaga menahan bobot saya. Tentu akan menjadi lebih mudah ketika sudah menemukan ritmenya.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAMSUNG CAMERA PICTURES

          Saya sudah melewati tajamnya batuan andesit dan marmer yg menggores perih di pitch satu, tinggal tersisa tiga pitch lagi, sudah tidak ada kesempatan untuk mundur saat ini. Yg perlu saya lakukan hanyalah terus naik ke atas menyelesaikan apa yg telah saya mulai. Betul memang saya tidak berani memandang ke bawah. Memandang kebawah membuat keringat dingin keluar lebih deras gemetar lebih hebat. Percaya pada diri sendiri serta peralatan panjat yang terpasang tidak begitu mudah seperti kelihatannya. Imajinasi negatif kerap hadir di sela-sela peluh. Namun saya bertekad ini bukanlah menaklukan tebing tertinggi di daerah kawasan Citatah namun lebih dari itu. Menaklukan diri sendiri dari rasa takut itulah yg lebih utama.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

           Hingga akhirnya lewat tengah hari menjelang sore kedua kaki yang masih bergetar di luar kontrol menginjak puncak pada tebing tersebut. Sujud kulakukan, entah berapa kali lantunan doa mengiringi pegerakanku dari sisi tebing satu ke sisi tebing lainnya. Cukup memakan waktu lama sekedar duduk-duduk santai sambil tersenyum lucu membayangkan perjalanan menaiki tebing tadi. Menikmati sore indah di puncak tebing ini menjadikan ia berbeda dengan sore yang pernah saya nikmati sebelumnya. Bagaimana tidak, pemandangan di atas dihiasi bunga berwana kuning bak taman gantung. Lalu kamu dapat melihat aktivitas kota Padalarang, Bandung dan sekitarnya bak miniatur. Dan kembalilah kami ke Basecamp berajalan menuruni jalur setapak curam yang disediakan di belakang tebing. Memar yang membiru dan sedikit luka di beberapa tempat tentu akan terbayar  dengan membawa pulang pengalaman baru yang mengasyikkan. “Life in fear, and then Kill your fear” kata magis yg selalu membuat saya jatuh cinta untuk memanjat tebing lagi dan lagi, hingga kini.

Leave a Reply