Uncategorized

Menilik Sepotong Sejarah Peradaban : Candi Ngawen

              Sengatan matahari tidak begitu terasa karena terhalang langit mendung ketika hari sudah masuk di babak pertengahan waktu. Saya dan seorang teman melaju dengan kecepatan sedang ke arah Kota Magelang. Tidak jauh dari Jogja. Hari itu jalanan Jogja hingga Magelang begitu sibuk. Semrawut jalan dipenuhi truk-truk bermuatan serta bis antar provinsi. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Memasuki wilayah Muntilan, saya refleks menghamburkan pandangan ke arah tepi jalan; mencari petunjuk arah objek wisata candi yang dulunya sempat bersembunyi di relung tanah setinggi 2-3 meter; terkubur oleh rangkaian erupsi ancala nan mega yang menjulang di utara; Merapi; sebelum seorang Belanda, N.W. Hoepermans menemukan sebuah arca yang rusak di tahun 1864. Tak lama setelah saya melewati deret toko kerajinan batu alam yang menjamur pada bahu jalan serta aspal sedikit mengelupas; di tengah hamparan persawahan yang belum menguning dan asyik melambai-lambai karena tiupan semilir angin, terlihat sebuah kompleks bangunan candi yang dibuat pada masa Wangsa Sailendra abad ke-8. Candi Ngawen, adalah tujuan perjalanan saya dan Risda kali ini.

        Saya bergegas mengikuti Risda usai memarkirkan kendaraan pada luar pagar kompleks candi yang dinaungi kanopi hidup: pohon talok. Dengan langkah pelan serta tak tergesa saya masuk melewati pintu pagar, menapaki jalan kecil yang ditumbuhi rumput mungil menuju bangun candi. Di dalam tanah seluas 3.556m² bangunan candi terdapat  taman apik tertata rapi. Sebuah banguan kelasik yang dihiasi bunga-bunga sepatu hingga memberi kesan manis pada bangunan candi. Terdapat pula petugas yang khusyuk berjaga di pos pada bagian kanan pintu masuk. Tak sepersen pun kami dipungut biaya untuk menilik kompleks candi. Kami hanya cukup mengisi identitas pada sebuah buku tamu. Tanah aluvial muda yang membuat subur lahan pertanian Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Magelang menopang megah konstruksi bangunan  2 candi utama dan 3 candi yang mengapit . Dengan corak arsitektur menyerupai Candi Hindu, Candi Ngawen memiliki tekstur bangunan yang hampir sama dengan Candi Mendhut—yang jaraknya sekitar 5 kilometer bila ditempuh dari tempat itu. Candi Ngawen pun memiliki latar tradisi agama Budha seperti Candi Mendut.

          Di dalam banguan Candi Ngawen, ditemukan arca Dhyani Buddha dengan posisi duduk, Ratnasambhawa pada Candi Ngawen II dengan atap yang sudah tidak ada akibat gempa bumi atau—mungkin—termakan usia. Namun, ini tidak mengurangi esensi keindahan candi. Reruntuhan banguan yang dibiarkan apa adanya malah membuat banguan candi menjadi pemandangan bernuansa syahdu. Apalagi ketika matahari siang tepat menyingsing dan menyiramkan cahayanya  di atas bangunan, menerobos masuk melalu celah lubang atap candi; menyemai kehangatannya pada setiap lekuk patung Buddha Ratnasambhawa. Kamu pun bisa membayangkan sendiri keindahan itu. Memang, candi yang arsitekturnya memiliki perpaduan corak Hindu serta Buddha, dan  digadang sebagai candi peralihan karena dibangun pada masa transisi kerajaan Hindu-Buddha di Pulau Jawa, memiliki nuansa keartistikannya di mata para penikmatnya.

             Begitu juga dengan saya. Keelokan candi seolah menyihir diri saya. Apalagi ketika saya mengitari susunan potongan batu yang saling mengunci satu sama lain dengan pahatan unik; yang menjadikan banguna Candi Ngawen sebagai tempat untuk melayangkan doa di tengah ancaman bencana alam atau kekurangan pangan. Sebuah titik tumpu keseimbangan hidup yang selaras antara alam dan pencita-Nya. Selain menikmati artefak berupa ukiran, saya melihat ornamen patung singa di setiap sudut kaki candi. Ornamen patung singa ini memiliki esensi penting dalam sebuah bangunan suci, yaitu menangkal pengaruh jahat. Patung ini dipercaya sebagai arca yang menjaga candi dan vihara Pangeran Sidhartha yang sedang dalam penantian menuju nirwana. Relief candi berbentuk Kinnara, Kinnari (sebagai burung penghibur para dewa khayangan), dan Kala-makara (Dewa waktu) masih jelas terukir indah. Pesan yang ditinggalkan dalam relief di candi pun, adalah pesan moral dalam kehidupan masyarakat, yang mengajari kita tentang kehidupan. Dalam hal ini bagaimana umat Buddha memandang hidup, menjalani hidup, dan apa yang ingin dicapai dari kehidupan ini. Tidak hanya mencapai kebahagiaan di dunia tapi juga di nirwana. Semua terangkai dalam relief berisi fabel (Jataka).  Ornamen relief biasanya bertema penggambaran kehidupan Buddha juga kelahiran dalam bentuk binatang tertentu, fabel-fabel yang populer ini yang disebut dengan Jataka.

        Tak begitu banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara datang berkunjung. Sangat disayangkan memang. Padahal di desa yang dihuni ± 1.843 kepala keluarga (Tahun 2015) ini dilingkupi udara yang begitu sejuk dan didukung dengan pemandangan indah pada waktu senja. Bila hari sedang baik dan bersahabat, kamu bisa melihat cahaya senja emas-kemerahan berlatar candi menghadap ke timur. Puas berkeliling, saya dan Risda beristirahat pada tempat duduk di bawah pohon talok yang sedang berbuah merah terkena sengat matahari, sehingga menimbulkan sensasi cahaya yang terpecaha-pecah karena terhalang ranting-ranting kecoklatan pohon; dan ruas-ruas cahaya itu jatuh dengan jarang-jarang dengan sedikit condong miring ke arah saya dan Risda. Kami menikmati semua itu sembari melihat rekah senyum anak-anak Desa Ngawen yang sedang bermain di kompleks candi sore itu. Dan di depan kami duduk, terdapat seorang  bapak yang mengajak putri manisnya menyambangi Candi Ngawen. Pria paruh baya itu datang jauh sebelum kami berdua tiba di kompleks Candi. Begitu menyenangkan. Kita sejenak dapat mengasingkan diri dari segenap riuh kota dengan kesibukannya; menikmati harmoni pada sepotong sejarah peradaban bernilai luhur; sambil mengagumi dalam hati masih ada sosok orang tua yang peduli untuk mengenalkan khazanah budaya bangsa lewat wisata candi.

2 thoughts on “Menilik Sepotong Sejarah Peradaban : Candi Ngawen

Leave a Reply