Travel Journal

Nelayan di Tapal Batas

       Langit biru tampak menggantung bebas di wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Australia. Perahu ketinting[1] perlahan dilabuhkan Abdullah menuju perairan yang tak jauh dari desa tempat ia tinggal. Zaenal dengan cekatan memanggul peralatan memancing milik bapaknya. Sudah sejak kecil ia diajak melaut—dan khususnya ketika tak ada jadwal sekolah. Hari ini saya dan Satya diajak oleh Abdullah untuk ikut melihat aktivitasnya selama berada di laut lepas. Kesempatan itu tidak kami sia-siakan. Bahkan tungku semangat kami semakin berkobar saat menaiki perahu.

     Saya memilih duduk pada bagian tengah agar berat perahunya seimbang. Sementara istri Abdullah tampak menggendong Aisyah ketika melepas kepergian kami menuju laut dengan senyum. Momen tersebut mengingatkan saya pada lukisan “Keluarga Nelayan” karya Renato Cristiano yang saya lihat di Galeri Museum Nasional beberapa hari sebelum tiba di Pulau Seira, Maluku Tenggara Barat. Lukisan tersebut menampilkan cerita tentang nelayan yang bersiap-siap menuju ke suatu tempat dengan beberapa orang keluarga menunggunya di bibir pantai.

Zaenal Nelayan Kecil Pulau Seira
Zaenal; anak nelayan Pulau Seira

Rumah Pak Abdullah Pulau Seira
Rumah Pak Abdullah Pulau Seira

       Begitu mesin diesel dihidupkan kapal mulai bergoyang membelah alunan ombak. Abdullah berada di belakang untuk mengemudikan laju perahu. Rambut kami sedikit basah terkena cipratan air garam; mata pun terasa perih dan tak jarang menjadi merah, seperti sensasi berkeramas di waktu kecil bila tak memejamkan pelupuk mata. Setelah terombang-ambing di tubuh perahu dan berhasil menentukan lokasi menangkap ikan, Zaenal menurunkan jangkar yang terpasang di bagian depan perahu. Saya sempat khawatir ia tercebur ke laut jika tak hati-hati menurunkan jangkar. Namun tampaknya Zaenal betul-betul sudah terbiasa untuk tidak takut dengan laut yang dalam. Ia terlihat tenang ketika mengulur jangkar perahu tersebut.

Processed with VSCO with j3 preset
Menunggu instruksi bapak untuk menurunkan jangkar.
Processed with VSCO with lv01 preset
Abdullah terampil dalam meramu umpan
Memancing dengan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan

       Abdullah mulai menyiapkan peralatan yang digunakan untuk memancing. Saya melihat ia sangat terampil meracik umpan. Memotong ikan menjadi bagian-bagian kecil.

“Jadi yang biasa saya pakai untuk dijadikan umpan ini jenis ikan lembang. Kalau tidak ya bisa pakai daging ikan apa saja yang tidak laku dijual”, ujar Abdullah sambil mengurai senar pancing.

       Bahkan hanya bermodal alat pancing sederhana yang terbuat dari seutas senar—atau kawat panjang—dengan ujung kail dikaitkan daging ikan segar sebagai umpan, Abdullah terlihat tanpa hambatan mengoperasikannya. Dari situ saya melihat bahwa masyarakat perbatasan di Pulau Seira begitu arif dan bijaksana dalam mengelola segala hal. Mereka masih mempertahankan kearifan lokal dan budaya mereka untuk tetap memancing menggunakan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan. Mereka tetap sederhana dalam mengelola sumber daya alam untuk menjaga harmoni di pulau-pulau kecil terluar.

      Saya pun menjadi tertarik untuk mencobanya. Dengan menggunakan kaos tangan—akan lebih aman dan mudah saat mengulur atau menarik senar—perlahan saya menerapkan instruksi Abdullah sebelumnya. Sampai tiba-tiba saya terkejut ketika merasakan ikan menyambar umpan. Beberapa menit ikan itu melakukan perlawanan dengan menggeliat-geliat mencoba melepaskan diri dari umpan; sebelum akhirnya calon ikan tangkapan kami dapat melenggang meloloskan diri—bebas berenang ke dalam laut.

Umpan alat pancing ulur
Umpan pada alat pancing ulur
Sehari menjadi nelayan
Bersenda gurau sambil menunggu ikan besar menyambar umpan.

 

***

       Selama di atas ombak dan memancing ikan, sesekali Abdullah banyak bercerita. Pria paruh baya itu mengisahkan jika dirinya dapat menangkap sekitar 20 ikan, bahkan lebih setiap kali pulang melaut saat angin musim timur. Beragam pula jenis ikan hasil tangkapannya, mulai dari ikan puri[2], lolosi, cakalang, sunu[3], kakap merah, cumi hingga udang/lobster. Lain halnya bila sedang angin musin barat ia memilih berhenti melaut hingga cuaca berangsur membaik. Kondisi laut yang tak aman serta hasil tangkapan yang sangat sedikit menjadi alasan baginya untuk mencari nafkah di daratan misalnya; menjadi buruh bangunan atau bercocok tanam.

       Namun tampaknya sedikit berbeda dengan hari ini. Mungkin karena kami sedang apes atau laut sedang enggan berbagi rezkinya di siang hari. Sudah berjam-jam melaut kami tak juga mendapatkan hasil.

“Jangan sedih tidak dapat ikan, karena memang ikan-ikan kalau siang sedang tidur. Kalau sore biasanya baru banyak dia keluar cari makan”, hibur Abdullah yang melihat saya dan Satya sedih.

       Kami pun tertawa mendengar candaannya. Zaenal terpingkal-pingkal melihat tingkah lucu bapaknya. Melihat kondisi ini Abdullah pun mengajak kami untuk mampir mengunjungi keramba UD. Pulomas – tempat teman Abdullah bekerja — sebelum kembali ke pesisir. Jaraknya hanya 7 menit dari tempat kami memancing tadi. Begitu badan perahu merapat ke keramba, Zaenal dengan cekatan melompat dan mengikat tali tambang ke salah satu tiang di bangunan keramba. Aku berusaha berdiri sambil menyeimbangkan tubuhku lalu melangkah ke atas keramba dengan hati-hati.

Berpapasan dengan Nelayan lain Pulau Seira
Berpapasan dengan Nelayan lain
Menilik keramba milik UD. Pulomas

       Kami disambut hangat oleh beberapa pria yang sedang beristirahat. Mereka tampak baru selesai menimbang-nimbang ikan untuk dikirim ke Hongkong melalui Bali. Sedang ikan lainnya disimpan hidup-hidup di dalam keramba hingga ada pembeli yang datang. Ikan-ikan yang ada di dalam keramba adalah jenis ikan kerapu dan lobster. Dua jenis ikan ini memang menjadi komoditas unggulan di perairan Pulau Seira.

Keramba UD. Pulomas di Perairan Pulau Seira
Keramba UD. Pulomas di Perairan Pulau Seira
Nelayan yang sedang beristirahat sambil memantau keramba
Beristirahat sambil memantau keramba

“Disini ikan kerapu maupun lobster jumlahnya banyak sekali karena terumbu karang di perairan ini masih bagus. Jadi gampang cari ikannya”, kata Benny Lodar, salah seorang nelayan setempat.

     Benny Lodar dengan senang hati mengajak berkeliling keramba dan menunjukkan kepada kami macam-macam ikan kerapu dan lobster. Lobster yang paling mahal adalah lobster Mutiara. Jenis ini harga jualnya mencapai Rp 350.000/kg. Berbeda dengan lobster Batik dan lobster Bambu yang harganya Rp 230.000/kg. Untuk Ikan kerapu harganya berkisar dari Rp 50.000/ekor – Rp 320.000/kg. Setelah puas berkeliling dan mengintip isi keramba milik UD. Pulomas kami kembali melanjutkan perjalanan kami.

Ikan Kerapu di dalam keramba UD. Pulomas
Ikan Kerapu di dalam keramba UD. Pulomas ( Dok. Foto: Satya Winnie)

Komoditas utama; lobster

Screenshot_2017-08-20-00-10-43-819_com.instagram.android
Benny Lodar memperlihatkan jenis-jenis lobster (Dok. Foto: Satya W)
Menikmati suasana keramba di tengah perairan Pulau Seira
Menikmati suasana keramba di tengah perairan Pulau Seira

       Perahu mulai bergerak dengan kecepatan sedang. Kencangnya suara mesin mengalah suara perut kami yang mulai lapar kami. Kami semakin menjauh dari keramba yang tampak ditopang menggunakan drum-drum agar terapung. Tak lama daratan semakin dekat. Perahu mulai melambat, mesin pun dimatikan. Akhirnya kami sampai juga di bibir pantai. Anak-anak antusias menyambut dan mengitari kami di atas perahu berharap untuk kami foto. Memang mengecewakan tidak mendapat satu pun ikan dari melaut, apalagi sudah membayangkan membawa pulang ikan kerapu yang segar dan besar. Paling tidak saya tetap bahagia mendapat banyak pengalaman menjadi nelayan dari Abdullah hari ini.

***

       Bagi Abdullah mencintai perairan Arafura sama halnya seperti ia mencintai keluarganya. Karena laut baginya merupakan rumah kedua; di mana ia menghabiskan sebagian waktunya seharian. Bahkan laut untuk dirinya lebih dari apapun. Di sanalah ia menggantungkan hidup, agar dapur rumahnya tetap dapat mengepulkan asap.

Keindahan Pulau Seira
Keelokan Pulau Seira, Maluku Tenggara Barat

***

____________________________________

[1] Perahu yang menggunakan motor luar dengan poros panjang yang dipasang di sisinya, dapat dibenamkan ke dalam air atau diangkat ke permukaan air.

[2] Sebutan daerah untuk ikan teri basah

[3] Sebutan daerah untuk ikan kerapu

 

* Menuju Pulau Seira dapat ditempuh dengan speedboat dari Pelabuhan Saumlaki, Maluku Tenggara Barat dengan waktu tempuh sekitar 3 – 4 jam

(Perjalanan ke Pulau Seira pada hari Jumat, 18 Agustus 2017)

7 thoughts on “Nelayan di Tapal Batas

  1. Perdana main ke blog mba rinda domain baru nih
    seru naik ketinting itu. dulu waktu di papua sering banget keliling kampung2 pakai katinting.

    Aku pernah nyoba mancing dengan cara yg sama. Tapi kayanya memang bau tangan orang Jawa cukup dikenali sama ikan2. Anehnya, temenku asli papua dapet ikan terus. Aku? umpanku g pernah disenggol ikan. Katanya bau tangan orang Jawa berbeda. hehe

  2. Ceritanya benar-benar bisa menggambarkan pesona alam Indonesia ya, salut! Apalagi ketinting yang disebutkan diatas, membuat saya penasaran bagaimana rasanya menaiki itu. Jujur saja, saya belum pernah menaiki transportasi yang satu itu, hehe. Secara keseluruhan juga ceritanya menarik untuk terus dibaca hingga akhir 🙂

Leave a Reply