Outdoor Activities · Travel Journal

Pantai Teluk Hijau: Cerita di Pesisir Selatan

                Hari ketiga menjejak petualangan di kota matahari terbit Pulau Jawa, aku─yang akhir-akhir ini sering─bersama teman-teman Pesona Banyuwangi; mengawali pagi dengan sarapan sego cawuk racikan tangan tua Mbok Sri. Dengan tangan lekat pada muntu ia membuat sega cawuk dengan tersenyum. Makanan yang dibuat Mbok Sri mengingatkan ku untuk kemabali pulang ke rumah, dan tentu saja Mbok Sri berhasil membuat ku rindu masakan Ibu. Kenyang usai menyantap sarapan pagi, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai yang menjadi permata hijau di pesisir Banyuwangi. Perjalanan menuju pantai yang didominasi padat bangunan kota—perlahan karena gerak mobil yang beranjak—beralih menjadi kebun buah naga, jeruk, kakao, dan tebu. Beberapa jam kemudian kami tiba di pinggiran kota Banyuwangi. Jauh dari bayang-bayang gedung serta padat lalu lintas.

                      Rata-rata rumah di daerah Kedungrejo memiliki sepetak kebun buah naga di halaman rumahnya. Lebih variatif lagi ketika memasuki daerah Silir Agung, yang penduduknya banyak memiliki kebun jeruk. Hijau permandani di sepanjang jalan membuatku terus terjaga, dan itu adalah sebuah bentuk keberuntungan yang lain bagiku. Karena dari balik jendela mini bus dengan tirai tersibak, tampak ladang-ladang penuh pria dan wanita paruh baya yang sedang bekerja. Mereka memegang cangkul dan bibit padi; berkerja di kelilingi sederet pemandangan bukit yang menghijau. Kepala mereka dilindungi caping dan bersimbah peluh.

               Terpaut jarak beratus-ratus meter saat memasuki jalanan berbatu dan tidak rata, debu mengepul dari jalan-jalan; pada sela bidang-bidang tanah persegi ladang tebu. Udara pun menyeret bau tajam getah tebu.  Aroma itu baru benar-benar berganti dengan bebauan lain, ketika mini bus memasuki wilayah Perhutani. Pada hutan lepas itu, pohon-pohon berdiameter besar—dan rawan tumbang jika angin berhembus kencang—berjajar. Dari balik kaca mobil, sinar matahari yang jinak merasuk dari renggang tangkai daun pohon jati, sengon laut, dan tak luput menyinari buah-buah kakao. Hampir mencapai pesisir, terdapat sekelompok pohon karet yang bentuknya unik. Batang pohon-pohon itu terlihat miring, condong ke arah jalan pulang.

peta taman nasional merubetiri
Peta Aksesibilitas Taman Nasional Meru Betiri (doc. Google.com)

              Kami tiba pukul 11.30 WIB di gerbang pos Taman Nasional Meru Betiri, kemudian mengurus berbagai hal administrasi guna masuk lebih jauh. Dengan luas 580 km², sangat memungkinkan di dalamnya menyimpan aneka ragam flora-fauna. Karena jalur yang tidak memungkinkan menggunakan mini bus, kami menggantinya dengan armada mobil offroad. Perjalanan menuju tempat parkir berhasil membuat kami bergoyang kesana-kemari; terkantuk-kantuk badan mobil; mengocok-ngocok perut kami.

Gerbang Meru Betiri photo by rheevarinda
Gerbang Meru Betiri photo by rheevarinda
Tari masuk taman nasional meru betiri
Tiket Masuk Taman Nasional Meru Betiri
DCIM100MEDIA
Sensasi Offroad di Taman Nasional Meru Betiri menambah nilai petualangan

 

                      Aku turun dari mobil offroad yang berhenti di parkiran. Tampak pedagang es krim berjualan di dekat pintu masuk titik awal trekking. Fahmi mencicipi es krim sembari berjalan santai. Pantai Teluk hijau kurang lebih jaraknya 1 km  berjalan kaki dari titik awal trekking; dengan medan jalan setapak yang sepanjang jalannya ditumbuhi pepohonan liar khas hutan tropis. Dan untuk memudahkan pengunjung menapaki turunan yang curam; di lintasan jalan terdapat tali-tali tambang pada beberapa titik yang sengaja dibuat. Saat berada di titik atas bukit, kami disuguhi pesona Pantai Batu yang letaknya persis sebelum Pantai Teluk Hijau. Aku terpaku beberapa saat. Tubuhku sama sekali tidak membuat gerakan atau menimbulkan bunyi, kecuali nafasku yang terenggah sebab melewati jalan sempit naik-turun. Bunyi burung-burung lembut bercericit siang hari. Suara debur ombak memecah karang cadas. Dan suara macaca fascicularis saling bersahutan.

DCIM100MEDIA
Pemandangan sepanjang jalan setapak
Tracking Teluk Hijau
Trekking menuju pantai idaman: Teluk Hijau

            Tak lama setelah menuruni bukit, kami tiba di Pantai Batu, di muara kedua sungai, aku melihat segerombolan macaca fascicularis lincah bergelantung dari satu pohon ke pohon lainnya. Saling berkejaran berebut makanan. Kedua kaki ku bertumpu pada batu-batu sebesar kepalan tangan, ciri khas pantai Batu. Rasa letih terbayar tanpa cicilan. Ucapan selamat datang di Teluk Hijau terpampang jelas pada papan bewarna merah; kontas dengan latar laut biru toska dan bongkahan karang. Warna laut yang hampir menyerupai warna hijau itu disebabkan karena adanya alga hijau di dasar teluk. Gemuruh ombak yang menabrak batu karang, memecah dengan seluruh kekuatannya. Karena silau langit siang, aku mencari-cari teman lainnya sambil mengedipkan mata. Mawski dan Aini duduk di pasir putih, di bagian pantai yang tinggi, dalam bayangan pohon ketapang.

Welcome to GreenBay Banyuwangi
Plang Selamat Datang di Teluk Hijau yang menjadi ciri khas pantai ini
Teluk Hijau by Rheevarinda (4)
Batu Karang yang menambah keelokan pantai
Menikmati Pesona Banyuwangi di Teluk Hijau
Enjoy the moment

                   “Sini nyantai dulu Nda, biar kayak di pantai”, Celetuk Mawski yang melihatku berdiri terenggah-enggah. Aku tertawa di dalam hati. Benar memang, aku harus meluangkan waktu saat ini. Karena begitu banyak orang yang menyia-nyiakan waktu sekarang, dan lebih sibuk dengan apa yang akan mereka hadapi di depan. Seketika aku merebahkan tubuhku pada kelembutan pasir pantai. Setelah beristirahat lumayan lama dan ritme napas kembali normal, aku menyisir dari pinggiran hingga ujung pantai Teluk Hijau dengan kaki telanjang. Aku merasakan pasir lembut menempel pada kulit tanpa menyakitiku. Air pantai yang dingin, tidak begitu lengket. Di atas sana langit biru terbentang. Warnanya seperti berlomba-lomba dengan laut: Tentang mana yang lebih biru. Aku menyangkutkan badanku pada ayunan kayu di pinggir pantai Teluk Hijau. Tepat di belakangku terdapat air terjun setinggi 8 meter. Konon cerita mistis melingkupi air terjun tersebut. Tempat ini kerap dijadikan tempat mandi para bidadari. Menurut cerita masyarakat Rajegwesi, setiap musim penghujan akan tampak pelangi menggantung indah di atas perairan teluk Rajegwesi selama beberapa hari. Dan pelangi berhulu di air terjun pantai Teluk Hijau ini. Selain santai bermain ayunan, pengunjung pun bisa memancing di pantai ini.

Teluk Hijau (3)

Teluk Hijau by Rheevarinda (1)
Menikmati debur ombak di pantai Teluk Hijau
Teluk Hijau by Rheevarinda (3)
Kapal nelayan yang mengantarkan pengunjung ke pantai Rajegwesi
Aini dan pesona pantai Banyuwangi
Pesona pantai Banyuwangi
Teluk Hijau by Rheevarinda (2)
Air terjun di teluk hijau mengarah langsung ke pantai

Puas menikmati angin sepoi; menenggelamkan kaki pada buih ombak, kami pulang lewat jalur laut dengan menggunakan perahu nelayan. Aku dibantu menaiki badan perahu oleh salah seorang nelayan. Aku memilih tempat duduk di baris kedua yang katanya lebih aman dari cipratan ombak. Cukup membayar Rp 35.000/orang untuk sekali jalan, kami sudah bisa pulang tanpa menempuh jalur awal yang melelahkan. Sensasi 15 menit menerjang ombak laut selatan memang sangat memacu adrenalin. Lebih asik ketimbang naik wahana permainan kora-kora. Tak ayal, baju yang kami kenakan pun tak luput dari basah cipratan air laut. Dibutuhkan nyali yang besar karena perahu yang kami tumpangi merupakan perahu kecil. Tapi perasaan aman melegakan hati, ketika melihat kapal yang kami tumpangi tersedia baju pelampung. Sepanjang perjalanan laut, pemandangan tebing-tebing indah bertempuk ombak begitu memanjakan. Seperti adegan pada film perompak Pirates of Caribean. Aku juga melihat tebing yang mempunyai goa. Cukup besar. Mungkin goa itu terbentuk akibat terkikis debur ombak dalam kurun waktu lama.

          Ombak terkadang terasa berada di atas atau bawah kami. Akhirnya perahu nelayan yang kami tumpangi berlabuh dengan selamat; setelah menunggu ombak yang mendorong perahu mencapai pesisir pantai Rajegwesi. Aku menginjakkan kaki pada batas pasir hitam dan air laut. Perahu-perahu nelayan yang diistirahatkan pada pinggiran pantai menyambut kami. Begitulah. Sangat menyenangkan berpetualang ke Pantai Teluk Hijau, Banyuwangi.

8 thoughts on “Pantai Teluk Hijau: Cerita di Pesisir Selatan

  1. Terima kasih, cerita yg menginspirasi sekali,
    dn senng membacanya. Tpi, Adakah tmpat bersejarah islam di banyuwangi?

  2. Terima kasih, cerita yang sungguh inspiratif skali, dn senng membacanya hehe. Tapi,
    Adakah tempat bersejarah islam di banyuwangi?

Leave a Reply