Anything

: Pemuda R

Aku tidak tahu harus memulai cerita ini darimana. Apakah dari sudut kamarmu yang sepi. Dari laci meja kayumu yang berisi alat tulis dan beberapa barang aneh. Ataukah dari sela buku koleksimu yang disusun bak gedung bertingkat di tengah keramaian kota yang kerap kita kutuki. Semua ini berjalan sebegitu cepatnya. Lebih cepat dari terbangnya burung emprit yang kerap kau lihat di genteng depan kamarmu.

Bagimu bersamaku hari ini adalah buah hasil dari penantian terpanjangmu. Walaupun aku selalu saja mengelak ketika kau berkata begitu. Kau sangat tahu. Aku tak lihai menulis sajak atau tulisan yang apik sebagaimana sering kau lakukan untukku. Kau pun  juga tahu, aku seorang yang pelupa.

Sayang, ada hal-hal kecil–tentang dirimu– yang membuatku teringat pada banyak hal yang kita lakukan. Seperti momen ketika melihat senja yang ditangkup nampah sebesar lautan kemarin sore, ketika kau menutup kaca helmku sebab kau khawatir air hujan akan menyakiti wajahku, atau ketika kau mengeringkan bulir-bulir keringat sebesar biji bunga matahari yang selalu tumbuh subur di wajahku. Dan masih banyak lagi. Aku mencintaimu juga merindukanmu. Maka lekaslah sehat, semangatlah untuk sembuh.

 

Yogyakarta, 18 Maret 2017


Leave a Reply