Outdoor Activities · Travel Journal

Titik Akhir Temu, Sebuah Awalan dari Kisah-Kisah Menarik Bersama TravellerKaskus

1img_8300

Hari dimana senja menggayut di langit sore waktu itu. Aku lupa hari dan weton apa kami semua dipertemukan. Pertemuan itu terjadi dengan terencana pada sebuah acara camping dan gathering Travellerkaskus bersama teman pejalan se-Jogja dengan lokasi pantai yang masih menjadi idaman di kala itu. Pantai Pok Tunggal, bersanding mesra dengan deretan pantai-pantai bak surga kecil di selatan Jawa. Inilah ajang berkumpulnya berbagai komunitas pejalan yang ada di Jogja yang sangat kami tunggu. Kami saling bertukar nama tanpa canggung, tanpa jeda kami pun tenggelam dalam keakraban di trotoar UGM sembari menunggu teman yang lain datang. Kami seperti teman lawas yang tak lama bersua.

Setelah semua pejalan berkumpul, kami memulai perjalanan dengan berkendara motor beriringan, saling menjaga satu sama lain melewati jalanan Wonosari yang menjadi sepi hingga beberapa jam kedepannya. Jalan terakhir yang kami lewati menuju pantai semakin menyempit seperti dasar laut yang dikeringkan. Tidak rata dan semulus jalanan aspal membuat kami memperlambat laju kendaraan. Kami memarkirkan kuda-kuda besi dengan rapi pada sebidang tanah datar yang lumayan luas. Mengunci stang motor, dan memikul keril yang beratnya lumayan. Berjalan sedikit di medan yang bergelimang pasir membuat langkah kami tergopoh-gopoh untuk sampai di muka pantai Pok Tunggal. Gelap menyelimuti malam yang dingin, sedangkan kami di terangi cahaya api unggun yang membakar ikan-ikan cakalang yang telah kami pesan. Aroma gosong pada kulit ikan yang pas, menandakan ikan yang aku bolak balikan pada bara api unggun sejak lama sudah matang. Semua berebut mencuil daging ikan cakalang. Sebagian yang lain sibuk merangkai frame menjadi satu-kesatuan tenda yang berdiri kokoh dengan bantuan penerangan headlamp masing-masing.

TemanTravellerkaskus Yogyakarta 2013
Makan malam romantisnya para pejalan
img_1139
Sebelum negara hujan dan angin menyerang pemukiman pejalan
img_1143
berteduh menunggu badai reda

Malam yang kami lewati waktu itu cerah, bulan tampak begitu cekung. Bintang gemintang berkedip seperti hendak memberikan isyarat. Sebelum hujan badai dengan angin berarak-arak tiba-tiba melewati kami pada tengah malam yang sunyi. Hanya suara angin bergemuruh kencang menerbangkan apa saja yang ringan. Tenda-tenda yang telah di bangun kami tinggalkan begitu saja, kami berlarian berteduh di sebuah lapak yang tidak begitu besar luasnya. Suasana lumayan mencekam. Teman di salah satu sudut sibuk melafalkan doa. Dan yang lain sibuk bersantai pada hammock yang menggantung di tiang-tiang warung.

dscn3797
Sudah senang, lalu pulang
dscn3800
Pohon yang menjadi ciri khas Pantai Pok Tunggal

img_1189

img_1252
Dari kiri – kanan : Ridho, Adabi, Eka, Lucky, Syukron dan Yafie

Dengan penerangan seadanya melalui lampu senter atau headlamp, kami pun membuat forum kecil untuk bertukar cerita satu sama lain. Berbagai pengalaman perjalanan tercurah di diskusi kecil ini. Seruputan kopi dan obrolan-obrolan seru yang menghangatkan tubuh yang gemetar oleh dingin dan menenangkan resah dikala badai datang. Melewatkan hujan badai semalaman, tak ubahnya dengan perasaan yang di hujani rasa senang bertemu orang-orang dengan berbagai latar belakangnya. Ketika itu Kirana seorang wanita tangguh dengan usia lebih muda dua tahun dari saya mengawali cerita tentang perjalanan serunya ke bumi Irian Jaya seorang diri ala backpacker, disusul pejalan lainnya yang bercerita tentang apapun untuk mengisi heningnya malam itu. Inilah pertemuan yang melahirkan banyak pertemanan. Ya, pertemuan kami ini merupakan jembatan dalam memaknai perjalanan hidup.

Pukul tiga pagi kami pun mengatur posisi ikan asin yang dijemur untuk tidur pada matras yang telah disusun. Aku cepat-cepat menyempil di sebelah Aderiaza. Dingin hembusan angin laut selatan membuat ku terjaga. Dengan tubuh berselimut kantong tidur berbaring dengan teman-teman wanita lain. Malam bergantian jaga dengan pagi. Badai berangsur pergi meninggalkan kami, mungkin sudah bosan semalaman menerpa kami. Pagi ini cuaca begitu mendung. Terang mengantarkan kami pulang dari bermimpi. Aku bersama Belen, Lucky dan lainnya menyempatkan merasakan percikan ombak yg mencapai pinggiran pantai. Dari jauh terlihat sosok orang yang menarik perhatian kami. Siapa lagi kalo bukan Syukron dengan celetukan humor cerdasnya. Membuat teman – teman lain tidak mau kalah membalas dengan celetukan pula. Dari kejauhan Arif yang kini menjadi teman sepermainan di Travellerkaskus tampak bersiap menembakkan kamera ke arah manapun, menciptakan sejumput gambar abadi yang kini dapat kami raba-raba di ingatan kami. Pertemuan hari itu pun berakhir dengan sebuah cerita klasik. Terpahat dalam sebuah ukiran kenangan.

Ada sebuah lagu yang sampai saat ini menjadi andalan ketika bertemu teman Travellerkaskus serta teman pejalan lainnya. Lagu ini pun di perkenalkan kepada saya, ketika melakukan perjalanan seorang diri di Pulau Bali, hingga akhirnya mempertemukan saya kembali dengan Syukron, Ucok, Fajar, Rara, Prast, Arief, Zatan. Begini kira-kira lirik yang terlantun dari lagu tersebut lewat speaker mobil caravan kesayangan membawa penuh muatan cerita di dalamnya,

“Teman yang terhanyut arus waktu
mekar mendewasa
masih kusimpan suara tawa kita
kembalilah sahabat lawasku
semarakkan keheningan lubuk

Hingga masih bisa kurangkul kalian
sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
tegar melawan tempaan semangatmu itu
oh jingga … ”

Begitulah awal pertemuan ku dengan teman Travellerkaskus dan teman-teman dari komunitas pejalan lainnya. Teman yang kapan pun bertemu kembali tidak tercipta canggung. Canda hari, canda pagi damai kami sepanjang pagi. Akhir dari sebuah awalan kisah-kisah menarik dengan teman Travellerkaskus. Semoga pertemanan mengakar kuat hingga tumbuh menjadi pohon-pohon tua.

Travellerkaskus.com
#TemanTravellerkaskus

Leave a Reply